Perbedaan awal puasa antara NU dan Muhammadiyah hampir selalu menjadi topik hangat setiap menjelang Ramadan. Sebagian masyarakat bertanya-tanya: mengapa dalam satu negara, dengan kitab suci yang sama, bahkan dengan tujuan ibadah yang sama, bisa muncul tanggal yang berbeda?
Fenomena ini bukan sekadar perbedaan teknis. Ia menyentuh metodologi, cara memahami dalil, hingga pendekatan terhadap sains dan tradisi. Untuk memahami secara jernih, kita perlu melihat dasar penetapan awal Ramadan secara sistematis dan objektif.
Tentang NU dan Muhammadiyah?

Sebelum masuk ke teknis puasa, penting memahami dua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Nahdlatul Ulama
Didirikan pada 1926, NU dikenal sebagai organisasi Islam berbasis tradisi pesantren. Pendekatannya kuat pada mazhab fikih klasik (terutama mazhab Syafi’i), serta mempertahankan praktik keagamaan yang memiliki akar historis panjang di Nusantara.
Muhammadiyah
Didirikan pada 1912, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan pembaruan Islam. Organisasi ini menekankan pemurnian ajaran berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, serta lebih terbuka pada pendekatan rasional dan ilmiah dalam memahami teks agama.
Keduanya sama-sama memiliki tujuan dakwah dan pendidikan, namun berbeda dalam pendekatan metodologis.
Mengapa Awal Puasa Bisa Berbeda?

Perbedaan utama terletak pada metode penentuan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan dan Syawal.
Secara umum, ada dua metode utama:
- Rukyat (observasi langsung hilal)
Rukyat (observasi langsung hilal) adalah metode penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah dengan cara mengamati munculnya hilal (bulan sabit tipis pertama) setelah matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan. Pengamatan dilakukan secara langsung menggunakan mata telanjang atau alat bantu seperti teleskop di lokasi tertentu yang memenuhi syarat visibilitas.
Jika hilal terlihat dan memenuhi kriteria yang ditetapkan, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru; jika tidak terlihat, bulan digenapkan menjadi 30 hari. Metode ini menekankan pembuktian faktual di lapangan dan biasanya melibatkan tim pengamat resmi serta otoritas keagamaan.
- Hisab (perhitungan astronomi)
Hisab (perhitungan astronomi) adalah metode penentuan awal bulan Hijriah berdasarkan perhitungan matematis dan data astronomi mengenai posisi bulan dan matahari. Dengan menggunakan rumus astronomi modern, para ahli dapat menghitung ketinggian hilal, sudut elongasi, dan parameter visibilitas lainnya jauh hari sebelumnya tanpa harus menunggu observasi langsung.
Metode ini memberikan kepastian jadwal yang lebih awal dan terencana, namun penerapannya bergantung pada kriteria tertentu yang disepakati oleh otoritas keagamaan mengenai batas minimal kemungkinan terlihatnya hilal.
Perbedaan penekanan pada dua metode inilah yang memunculkan kemungkinan tanggal berbeda.
Metode NU Dengan Rukyat Hilal
Rukyat adalah metode melihat langsung hilal (bulan sabit tipis pertama setelah ijtimak/konjungsi) pada tanggal 29 bulan berjalan.
NU menggunakan rukyat sebagai metode utama, sesuai dengan hadis Nabi:
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.”
Bagi NU, teks hadis ini dipahami secara literal: melihat secara langsung adalah kunci.
Mekanisme Rukyat NU
- Observasi dilakukan di berbagai titik pemantauan.
- Jika hilal terlihat dan memenuhi kriteria, maka besoknya masuk bulan baru.
- Jika tidak terlihat, maka bulan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
NU tetap menggunakan hisab, tetapi sebagai alat bantu, bukan penentu utama.
Metode Muhammadiyah: Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Muhammadiyah menggunakan metode hisab dengan prinsip wujudul hilal.
Hisab adalah metode perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan terhadap bumi dan matahari.
Muhammadiyah menetapkan awal bulan jika:
- Telah terjadi ijtimak (konjungsi)
- Bulan terbenam setelah matahari
- Secara geometris hilal sudah “wujud” (ada di atas ufuk)
Tidak harus terlihat secara kasat mata.
Mengapa Muhammadiyah Memilih Hisab?
Karena:
- Perhitungan astronomi modern sangat akurat
- Menghindari ketidakpastian akibat cuaca
- Memungkinkan kalender disusun jauh hari sebelumnya
Pendekatannya lebih matematis dan berbasis kepastian data.
Tabel Perbandingan Puasa NU dan Muhammadiyah
| Aspek | NU | Muhammadiyah |
| Metode utama | Rukyat (observasi) | Hisab (perhitungan) |
| Posisi hisab | Alat bantu | Penentu utama |
| Prinsip hilal | Harus terlihat | Cukup wujud |
| Kepastian kalender | Menunggu sidang isbat | Bisa ditentukan jauh hari |
| Fleksibilitas | Bergantung hasil rukyat | Stabil dan konsisten |
Perbedaan ini bersifat metodologis, bukan teologis.
Apakah Salah Satu Lebih Benar?
Dalam kajian fikih, kedua metode memiliki dasar yang sah.
Pendekatan rukyat didukung dalil tekstual yang kuat dan tradisi panjang umat Islam.
Pendekatan hisab juga memiliki landasan ijtihad, terutama dalam konteks perkembangan ilmu astronomi modern.
Dalam ilmu usul fikih (metodologi hukum Islam), perbedaan ini disebut sebagai ikhtilaf ijtihadiyah, perbedaan yang lahir dari proses penalaran yang sah.
Artinya, ini bukan soal benar atau salah mutlak.
Peran Pemerintah dan Sidang Isbat
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan dan Syawal.
Sidang ini:
- Menggunakan data hisab
- Mengonfirmasi dengan hasil rukyat nasional
- Mengambil keputusan resmi negara
NU biasanya mengikuti hasil sidang isbat karena pendekatannya sejalan dengan rukyat.
Muhammadiyah sering menetapkan tanggal lebih dulu berdasarkan hisab internal.
Faktor Ilmiah: Apakah Hilal Selalu Bisa Dilihat?
Di sinilah aspek sains menjadi menarik.
Hilal sangat tipis dan redup. Kemunculannya dipengaruhi oleh:
- Sudut elongasi (jarak bulan-matahari)
- Ketinggian bulan
- Kondisi atmosfer
- Polusi cahaya
- Cuaca
Secara astronomi, ada batas visibilitas minimum. Karena itu, kadang secara hisab hilal “ada”, tetapi secara optik sulit terlihat.
Di sinilah titik temu sekaligus titik beda antara pendekatan rukyat dan wujudul hilal.
Dampak Sosial Perbedaan Ini
Setiap tahun, masyarakat kerap mempertanyakan mengapa harus berbeda.
Namun dalam sejarah Islam, perbedaan awal Ramadan antarwilayah bukan hal baru. Bahkan di era klasik, komunikasi antarnegara tidak secepat sekarang.
Yang menjadi tantangan modern adalah:
- Persepsi publik tentang “kesatuan”
- Pengaruh media sosial
- Harapan keseragaman nasional
Padahal, keragaman metode adalah bagian dari dinamika intelektual Islam itu sendiri.
Apakah Mungkin Disatukan?
Secara teori, mungkin.
Beberapa negara menggunakan kriteria “imkanur rukyat” (kemungkinan terlihat), yaitu kombinasi antara hisab dan rukyat.
Namun penyatuan membutuhkan:
- Kesepakatan metodologis
- Standar astronomi bersama
- Kompromi teologis
Selama perbedaan paradigma dasar masih ada, kemungkinan perbedaan tetap terbuka.
Apa Hikmah di Balik Perbedaan?
Perbedaan ini mengajarkan beberapa hal penting:
- Ilmu agama dan sains bisa berdialog
- Tradisi dan modernitas tidak selalu bertentangan
- Perbedaan ijtihad adalah bagian dari khazanah Islam
Jika dilihat secara lebih luas, ini adalah bukti bahwa Islam memiliki fleksibilitas intelektual yang besar.
Perbedaan puasa NU dan Muhammadiyah bukan karena perbedaan Al-Qur’an atau tujuan ibadah. Perbedaannya terletak pada metode penentuan awal bulan.
NU menekankan rukyat sebagai implementasi literal hadis.
Muhammadiyah menekankan hisab sebagai pendekatan ilmiah yang presisi.
Keduanya memiliki dasar fikih dan rasionalitas masing-masing. Dalam konteks keilmuan, ini adalah perbedaan metodologi, bukan konflik akidah.
Di era modern, tantangannya bukan lagi siapa yang benar, tetapi bagaimana umat memahami bahwa perbedaan yang berbasis ilmu adalah bagian dari dinamika peradaban.

