Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: untuk apa sebenarnya kita ingin menjadi kaya? Apakah sekadar mengejar angka yang terus bertambah, atau mencari ketenangan dan keberkahan dalam hidup?
Di tengah dunia yang serba cepat dan instan, riba sering tampil sebagai solusi praktis untuk mempercepat pertumbuhan harta.
Pinjaman instan, kartu kredit, paylater, hingga investasi berbunga menjadi bagian dari gaya hidup. Sayangnya, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang sering dianggap biasa: riba.
Padahal dalam Islam, riba bukan sekadar kesalahan kecil. Ia termasuk dosa besar yang memiliki dampak serius, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam sesi bersama Abdul Kaafi dan Koh Dennis Lim, dua tema penting diangkat: bahaya riba yang sering dinormalisasi, dan bagaimana sebenarnya Islam mendefinisikan kekayaan.
Riba: Dosa yang Dianggap Biasa
Mengapa riba kini terasa normal?
Karena sistem ekonomi modern membuatnya tampak wajar. Bunga pinjaman dianggap bagian dari “aturan main”. Bahkan banyak orang tidak lagi mempertanyakan hukumnya.
Namun dalam Islam, riba disebutkan secara tegas sebagai dosa besar. Larangannya bukan tanpa alasan. Riba:
- Menciptakan ketimpangan
- Memberatkan pihak yang lemah
- Menumbuhkan keserakahan
- Mengikis empati sosial
Yang lebih berbahaya adalah ketika hati menjadi kebal. Ketika sesuatu yang jelas dilarang justru dianggap biasa, di situlah letak masalahnya.
Sering kali orang berpikir:
“Semua orang melakukannya.”
“Tidak ada pilihan lain.”
“Ini hanya bunga kecil.”
Padahal dosa yang dianggap kecil dan terus diulang bisa menjadi besar dampaknya. Tidak hanya pada keberkahan harta, tetapi juga pada ketenangan hidup.
Rumus Kaya Ala Islam
Jika riba dilarang, lalu bagaimana cara menjadi kaya menurut Islam?
Dalam sesi bersama Koh Dennis Lim, dijelaskan bahwa konsep kaya dalam Islam berbeda dari standar dunia modern.
Kaya bukan sekadar banyaknya harta.
Kaya adalah cukup, tenang, dan berkah.
Rumus kaya ala Islam mencakup beberapa prinsip:
- Sumber yang halal
- Cara yang jujur
- Pengelolaan yang amanah
- Hati yang qana’ah (merasa cukup)
- Harta yang memberi manfaat bagi orang lain
Islam tidak melarang menjadi kaya. Banyak sahabat Nabi yang merupakan pebisnis sukses. Namun kekayaan mereka tidak memisahkan mereka dari ketakwaan.
Mereka kaya secara materi, tetapi tetap rendah hati. Mereka berlimpah harta, tetapi ringan bersedekah.
Di sinilah perbedaannya: kaya dalam Islam bukan hanya soal memiliki, tetapi juga soal berbagi dan menjaga keberkahan.
Antara Cepat Kaya dan Berkah
Riba menawarkan pertumbuhan harta yang tampak instan dan menjanjikan, seolah menjadi jalan pintas menuju kemapanan.
Namun keberkahan tidak tumbuh dari proses yang keliru. Jalan yang halal mungkin terasa lebih panjang dan tidak selalu spektakuler, tetapi ia membangun rasa cukup, ketenangan batin, dan keberlanjutan yang kokoh. Kekayaan tanpa berkah kerap menyisakan kegelisahan, sementara kekayaan yang diberkahi menghadirkan rasa aman dan tenteram.
Maka yang perlu kita renungkan bukan hanya seberapa besar harta yang terkumpul, tetapi dari mana ia diperoleh dan untuk tujuan apa ia digunakan.
Hadiri Kajian Islam Live Bersama INRA Expo 2026

Jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang bahaya riba yang kerap dinormalisasi serta mengetahui rumus kaya yang benar menurut Islam, jangan lewatkan sesi kajian ini.
Kajian Islam Live dapat disaksikan secara GRATIS melalui platform Hi-Fella. Peserta juga berkesempatan untuk berdonasi seikhlasnya yang akan disalurkan melalui program sedekah bersama LAZISKU secara amanah.
Mari hadir, belajar, dan menata ulang cara kita memandang harta, agar bukan hanya kaya secara angka, tetapi juga kaya dalam keberkahan.
Tema: Riba, Dosa yang Dianggap Biasa

6 Maret | 10.00 – 12.00 WIB
Bersama Abdul Kaafi
Tema: Rumus Kaya Ala Islam

6 Maret | 13.00 – 14.00 WIB
Bersama Koh Dennis Lim
Catat waktunya dan jangan sampai terlewat. Saatnya memperdalam ilmu dan memperbaiki arah finansial kita sesuai tuntunan Islam.
