Uang sering disebut bukan segalanya. Namun dalam banyak rumah tangga, uang justru menjadi pemicu pertengkaran paling awal. Mengapa konflik rumah tangga sering berawal dari keuangan? Dan bagaimana Islam memandang kerja, gaji halal, serta ketenangan hati dalam mencari rezeki?
Dalam sebuah diskusi yang menghadirkan dr. Aisah Dahlan dan Taufiqurrahman, S.Q, dua perspektif penting dibahas: neurosains dan syariah. Keduanya memberi sudut pandang mendalam tentang hubungan antara uang, emosi, dan keberkahan hidup.
Mengapa Uang Sering Jadi Pemicu Konflik Rumah Tangga?
Dari Sisi Psikologis
Secara psikologis, uang bukan sekadar alat tukar, tetapi simbol rasa aman, kontrol, dan harga diri. Saat salah satu pasangan merasa penghasilannya lebih kecil, tidak dihargai, atau pasangannya dianggap boros, yang terluka sebenarnya bukan saldo rekening, melainkan rasa aman dan nilai diri.
Karena itu, konflik finansial sering kali hanya gejala dari ketidakamanan yang lebih dalam.
Dari Sisi Neurosains
Dari sisi neurosains, ketika kondisi finansial terasa tidak stabil, otak mengaktifkan sistem ancaman. Hormon stres meningkat, emosi jadi lebih reaktif, dan komunikasi berubah defensif.
Diskusi sederhana tentang pengeluaran bisa berubah menjadi pertengkaran karena otak membaca situasi sebagai ancaman terhadap stabilitas hidup, bukan sekadar soal angka.
Dari Perspektif Syariah
Dalam perspektif syariah, keuangan keluarga adalah amanah yang harus dikelola dengan musyawarah, keterbukaan, dan tanggung jawab. Perbedaan “money script” atau pola pikir tentang uang sejak kecil bisa memicu gesekan jika tidak disepakati bersama.
Karena uang menyentuh keamanan, kekuasaan, dan identitas, tanpa visi dan komunikasi yang selaras, ia mudah berubah dari alat solusi menjadi sumber konflik.
Kerja Itu Ibadah: Mengapa Gaji Halal Menentukan Ketenangan?
Jika konflik sering bermula dari uang, maka solusi dimulai dari cara memperoleh dan memaknainya.
Dalam Islam, bekerja bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan bentuk ibadah. Konsep gaji halal bukan sekadar soal hukum, tetapi juga keberkahan.
Rezeki yang halal diyakini membawa ketenangan hati. Sebaliknya, pendapatan yang diperoleh dengan cara tidak benar dapat memengaruhi ketenteraman batin dan keharmonisan keluarga.
Ketika seseorang bekerja dengan niat ibadah:
- Ia lebih bertanggung jawab
- Ia lebih jujur
- Ia lebih tenang dalam menghadapi ujian finansial
Ketenangan ini berdampak langsung pada hubungan suami istri.
Uang Bukan Masalahnya, Cara Pandang Kita yang Menentukan
Neurosains menjelaskan bahwa persepsi memengaruhi respons emosi. Syariah menekankan bahwa niat menentukan nilai amal.
Artinya, uang bukan musuh dalam rumah tangga. Yang sering menjadi sumber konflik adalah:
- Kurangnya komunikasi
- Tidak adanya perencanaan
- Perbedaan nilai tentang uang
- Tidak jelasnya batas halal dan haram
Ketika kerja dipahami sebagai ibadah dan keuangan dikelola dengan prinsip syariah, rumah tangga memiliki fondasi yang lebih kuat, bukan hanya secara materi, tetapi juga spiritual.
Hadiri Kajian Islam Live Bersama INRA Expo 2026

Memahami konflik rumah tangga, mengelola keuangan dengan bijak, hingga memaknai kerja sebagai ibadah bukan hanya teori, tetapi bekal penting untuk membangun keluarga yang lebih tenang dan berkah.
Kajian ini akan membahasnya secara mendalam dari perspektif neurosains dan syariah, agar kita tidak hanya cerdas secara finansial, tetapi juga kuat secara spiritual.
Tema: Mengapa Konflik Rumah Tangga Sering Berawal dari Uang? (Tinjauan Neurosains & Syariah)

4 Maret | 10.00 – 12.00
Bersama dr. Aisah Dahlan, Cm., NLP., CCHt., CI
Tema: Kerja itu Ibadah: Gaji Halal, Hati Tenang

4 Maret | 15.30 – 17.00
Bersama Taufiqurrahman, S.Q
Kajian Islam Live dapat disaksikan secara GRATIS melalui platform Hi-Fella.
Bagi peserta yang berkenan, tersedia kesempatan untuk berbagi melalui donasi seikhlasnya yang akan dikelola secara amanah bersama LAZISKU melalui program sedekah.
Mari hadir, belajar, dan memperkuat fondasi keluarga dari hati.
