Skip to main content

Hi-Fella Insights

Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Resmi Dibuka! Indonesia Perluas Pasar Ekspor ke Asia Selatan dan Afrika

October 20, 2026
Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

TANGERANG — Indonesia memperkuat ambisi ekspornya melalui penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang resmi dibuka pada 14 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Pameran dagang internasional ini menargetkan potensi transaksi sebesar US$17,5 miliar sekaligus membuka peluang bagi produk nasional untuk menjangkau pasar global yang lebih luas.

Mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing”, TEI 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 dengan mempertemukan eksportir Indonesia, pembeli internasional, dan calon investor dari berbagai negara. Hingga hari pembukaan, pameran ini telah mencatatkan buyer dari 134 negara serta partisipasi 1.873 ekshibitor.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, membuka TEI ke-41 mewakili Presiden Prabowo Subianto.

Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, memperkuat kemandirian ekonomi, dan mendorong Indonesia menjadi negara maju.

Target Transaksi US$17,5 Miliar, TEI Jadi Pintu Masuk Produk Indonesia ke Pasar Global

TEI 2026 menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperluas akses pasar ekspor melalui pertemuan langsung antara pelaku usaha nasional dan buyer mancanegara. Selain menargetkan 30.000 pengunjung, penyelenggaraan tahun ini juga diarahkan untuk menghasilkan transaksi bisnis lintas negara dalam skala besar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa sebanyak 168 nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dijadwalkan ditandatangani pada hari pertama pameran. Kesepakatan tersebut melibatkan eksportir Indonesia dan buyer dari 22 negara.

Produk yang ditampilkan mencakup berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, pertanian, manufaktur, fesyen dan kriya, furnitur dan dekorasi rumah, hingga kawasan industri yang berpotensi menarik investasi.

Keberagaman sektor ini menunjukkan bahwa peluang ekspor Indonesia tidak hanya bertumpu pada komoditas mentah. Produk manufaktur, barang konsumsi, dan produk bernilai tambah juga memiliki ruang untuk memperluas penetrasi pasar internasional.

Hilirisasi Jadi Strategi Meningkatkan Nilai Tambah Ekspor

Peningkatan ekspor tidak hanya berkaitan dengan besarnya volume perdagangan, tetapi juga kemampuan Indonesia menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Karena itu, hilirisasi dan industrialisasi menjadi bagian penting dari strategi pemerintah untuk memperkuat daya saing produk nasional.

Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa optimalisasi pengelolaan sumber daya alam merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Melalui hilirisasi, sumber daya yang sebelumnya dipasarkan sebagai bahan mentah dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan terus mendorong perluasan akses pasar melalui perundingan dagang dengan berbagai negara dan kawasan. Budi Santoso menyebutkan, hingga saat ini terdapat 25 perjanjian dagang yang telah terimplementasi, sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam proses perundingan.

Perluasan kerja sama perdagangan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi eksportir Indonesia, baik melalui peningkatan akses pasar maupun penguatan posisi produk nasional dalam persaingan global.

Asia Selatan dan Afrika Jadi Peluang Baru bagi Ekspor Indonesia

Di tengah upaya memperluas perdagangan internasional, Indonesia juga mulai memperkuat penetrasi ke pasar nontradisional. Kawasan Asia Selatan dan Afrika menjadi dua wilayah yang dinilai memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan ekspor nasional.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti peluang perdagangan dengan negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan India. Menurutnya, pasar-pasar tersebut menunjukkan potensi yang menjanjikan bagi produk Indonesia.

Diversifikasi tujuan ekspor menjadi penting agar pelaku usaha nasional tidak hanya bergantung pada pasar tradisional. Dengan menjangkau negara mitra baru, eksportir berpeluang memperluas basis pelanggan dan membuka sumber pertumbuhan penjualan di luar pasar yang selama ini telah digarap.

Namun, keberhasilan penetrasi pasar tersebut tetap membutuhkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, standar produk, ketentuan perdagangan, dan karakteristik masing-masing negara tujuan.

UMKM Didorong Naik Kelas melalui Program Dari Lokal untuk Global

Selain perusahaan besar, UMKM menjadi bagian penting dalam strategi perluasan ekspor Indonesia. Melalui program prioritas Dari Lokal untuk Global, Kementerian Perdagangan berupaya membantu pelaku usaha lokal mendapatkan akses menuju pasar internasional.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi penjajakan bisnis atau business matching antara UMKM dan calon buyer mancanegara. Program ini didukung oleh 46 kantor perwakilan perdagangan RI di 33 negara, termasuk atase perdagangan, Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), Konsul Perdagangan RI di Hong Kong, KDEI Taipei, serta perwakilan Indonesia untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Pemerintah juga mengembangkan program Desa Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor untuk mengidentifikasi produk potensial dari desa yang dapat dikembangkan menuju pasar internasional.

Di pasar domestik, Kemendag turut mendorong kemitraan antara UMKM dan jaringan ritel dalam negeri. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat distribusi produk lokal sekaligus meningkatkan kesiapan pelaku usaha sebelum memperluas jangkauan ke pasar ekspor.

Campuspreneur Buka Peluang bagi Generasi Muda Menjadi Eksportir

Pengembangan eksportir baru juga diarahkan kepada generasi muda melalui program Campuspreneur. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari kewirausahaan dan mengembangkan bisnis, termasuk memahami peluang ekspor.

Menurut Budi Santoso, Kemendag telah menjalin kerja sama dengan 25 perguruan tinggi di seluruh Indonesia dalam mendukung program tersebut.

Dalam rangkaian TEI ke-41, pemerintah juga akan memberikan Campuspreneur Award kepada mahasiswa yang mencatatkan transaksi tertinggi selama pameran. Penghargaan ini menjadi salah satu bentuk dorongan agar mahasiswa tidak hanya mempelajari bisnis secara akademis, tetapi juga mulai membangun usaha yang memiliki peluang menjangkau pasar internasional.

Penghargaan bagi Eksportir dan Mitra Perdagangan

Untuk mengapresiasi kontribusi pelaku perdagangan internasional, Kemendag memberikan penghargaan kepada eksportir berprestasi serta pihak-pihak yang berperan dalam mempromosikan produk Indonesia di luar negeri.

Penghargaan Primaniyarta diberikan kepada eksportir berprestasi dan kepala daerah yang berkontribusi terhadap peningkatan ekspor nasional. Sementara itu, Penghargaan Primaduta ditujukan kepada mitra internasional, diaspora, dan kepala perwakilan RI di luar negeri yang aktif mempromosikan produk Indonesia.

Pemberian penghargaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekspor, mulai dari produsen dan eksportir hingga mitra perdagangan yang membantu membuka akses pasar internasional.

Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 dan Tantangan Memperkuat Daya Saing Produk Nasional

Penyelenggaraan TEI ke-41 sejalan dengan tiga program prioritas Kementerian Perdagangan, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global. Ketiganya diarahkan untuk memperkuat daya saing produk lokal, memperluas akses perdagangan internasional, serta meningkatkan partisipasi pelaku usaha nasional dalam kegiatan ekspor.

TEI 2026 didukung oleh Pertamina sebagai Strategic Partner, Bank Mandiri sebagai Bank Partner, serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai Event Partner. Dukungan juga diberikan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), dan sejumlah lembaga lainnya.

Dengan partisipasi buyer dari 134 negara, TEI 2026 menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan dagang sekaligus memperkenalkan lebih banyak produk nasional ke pasar internasional.

Meski demikian, capaian ekspor dalam jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya transaksi selama pameran. Konsistensi kualitas produk, kemampuan memenuhi standar negara tujuan, efisiensi distribusi, dan keberlanjutan hubungan bisnis akan menjadi faktor penting dalam mengubah peluang perdagangan menjadi kontrak ekspor yang berkelanjutan.

Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

Read More

Other Insights