Hi-Fella Insights

Nusantara Food & Hotel Expo 2026 Tunjukkan Industri F&B Indonesia Masih Tumbuh, Seberapa Besar Potensinya?

July 3, 2026
Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

Industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) masih menjadi salah satu sektor bisnis paling aktif di Indonesia.

Pertumbuhannya tidak hanya terlihat dari bertambahnya restoran, coffee shop, bakery, hotel, dan bisnis katering, tetapi juga dari meningkatnya kebutuhan terhadap bahan baku, teknologi pengolahan makanan, peralatan dapur profesional, serta solusi operasional hospitality.

Optimisme tersebut tercermin dalam penyelenggaraan Nusantara Food & Hotel (NFH) Expo 2026 pada 9–12 Juli 2026 di Indonesia Convention Exhibition atau ICE BSD City, Tangerang.

NFH Expo 2026 sebagai sebuah pasar strategis yang mempertemukan keunggulan kuliner dan hospitality Indonesia dengan para pelaku yang mendorong pertumbuhan industri makanan, minuman, dan perhotelan.

Mengusung tagline “Tap Into Indonesia’s Finest Delicacies”, pameran ini menghadirkan pelaku usaha dari berbagai bagian rantai industri, mulai dari produsen makanan dan minuman, pemasok bahan baku, penyedia perlengkapan dapur, perusahaan teknologi pangan, hotel, restoran, hingga asosiasi profesi.

Namun, ramainya penyelenggaraan NFH Expo 2026 juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar.

Seberapa luas sebenarnya potensi industri F&B dan hospitality Indonesia, serta peluang apa saja yang masih dapat dikembangkan oleh para pelaku usaha?

Industri F&B dan Hospitality Masih Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi

Prospek industri F&B dan hospitality tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya merek baru yang bermunculan. Data ekonomi menunjukkan bahwa sektor yang berhubungan dengan makanan, minuman, akomodasi, dan pariwisata masih memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh kuat

Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, termasuk sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.

Momentum positif bahkan berlanjut pada awal 2026. Pada triwulan pertama 2026, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi salah satu sektor yang mencatatkan pertumbuhan tinggi, mencapai 13,14 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas perjalanan, konsumsi masyarakat, serta permintaan terhadap layanan hotel, restoran, dan penyedia makanan.

Angka ini menjadi sinyal positif bagi industri HoReCa atau Hotel, Restaurant, and Cafe. Pertumbuhan hotel dan restoran tidak hanya menciptakan pendapatan bagi bisnis yang berhubungan langsung dengan konsumen, tetapi juga membuka peluang bagi perusahaan pendukungnya.

Setiap hotel, restoran, atau coffee shop membutuhkan jaringan pemasok yang luas, seperti:

  • produsen bahan makanan;
  • distributor minuman;
  • pemasok mesin dan peralatan dapur;
  • penyedia perlengkapan hotel;
  • perusahaan logistik;
  • penyedia kemasan;
  • sistem pembayaran dan kasir;
  • hingga jasa kebersihan dan pemeliharaan.

Artinya, pertumbuhan satu restoran atau hotel dapat menghasilkan permintaan baru bagi banyak bisnis lain di sepanjang rantai pasok.

Industri makanan dan minuman tetap menopang manufaktur

Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia. Sepanjang 2025, kontribusi industri pengolahan mencapai 19,07 persen terhadap PDB nasional, meningkat dari 18,98 persen pada 2024 dan 18,67 persen pada 2023.

Di dalam sektor tersebut, industri makanan dan minuman memegang peranan sangat besar. Pada triwulan kedua 2024, industri makanan dan minuman berkontribusi sekitar 38,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Nilai ekspornya pada Agustus 2024 juga mencapai sekitar US$3,78 miliar atau 21,36 persen dari total ekspor industri pengolahan nonmigas.

Pemerintah juga menempatkan industri makanan dan minuman sebagai salah satu sektor prioritas pada 2026. Kontribusi sektor ini terhadap PDB ditargetkan mencapai 7,64 persen, lebih tinggi dibandingkan sejumlah subsektor manufaktur lainnya.

Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa industri F&B tidak hanya terdiri dari restoran dan produk siap konsumsi. Ekosistemnya mencakup pertanian, pengolahan pangan, pengemasan, logistik, mesin produksi, distribusi, ritel, hotel, restoran, dan ekspor.

Karena rantai industrinya panjang, peluang bisnis dapat muncul di banyak titik. Sebuah perusahaan tidak selalu harus membuka restoran untuk masuk ke pasar F&B. Peluang juga tersedia melalui produksi bahan baku, distribusi, peralatan, konsultasi, teknologi, serta penyediaan layanan operasional.

Mobilitas wisatawan memperluas pasar hospitality

Pertumbuhan industri hospitality berkaitan erat dengan aktivitas pariwisata. Semakin banyak perjalanan yang dilakukan masyarakat, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap hotel, makanan, minuman, transportasi, hiburan, dan pengalaman kuliner.

Pada Juli 2025, Indonesia menerima sekitar 1,48 juta kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 13,01 persen dibandingkan Juli 2024. Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 100,20 juta perjalanan atau bertambah 29,72 persen secara tahunan.

Tren perjalanan tetap kuat hingga akhir tahun. Pada Desember 2025, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 105,98 juta perjalanan. Sementara itu, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,41 juta, naik 14,43 persen dibandingkan Desember 2024.

Tingginya mobilitas tersebut menciptakan pasar yang besar bagi pelaku hospitality. Wisatawan tidak hanya membayar kamar hotel, tetapi juga mengeluarkan biaya untuk makan, minum, oleh-oleh, transportasi, acara, dan pengalaman lokal.

Kuliner bahkan telah menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan. Banyak wisatawan memilih destinasi berdasarkan makanan khas, coffee shop, restoran populer, festival kuliner, atau pengalaman gastronomi yang ditawarkan.

Hal ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kuliner lokal menjadi produk bernilai tambah, baik dalam bentuk menu restoran, makanan kemasan, produk oleh-oleh, bahan baku premium, maupun komoditas ekspor.

Permintaan tumbuh, tetapi okupansi perlu tetap diperhatikan

Pertumbuhan jumlah wisatawan tidak selalu otomatis menghasilkan tingkat hunian hotel yang lebih tinggi sepanjang waktu.

Pada Juli 2025, tingkat penghunian kamar hotel berbintang secara nasional berada di angka 52,79 persen, turun 3,57 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, pada Desember 2025, tingkat penghunian kamar hotel berbintang meningkat menjadi 56,12 persen.

Data ini menunjukkan bahwa prospek industri hospitality tetap besar, tetapi permintaan dapat berubah mengikuti musim perjalanan, hari libur, kegiatan bisnis, dan kondisi ekonomi.

Hotel tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan wisatawan. Pelaku bisnis perlu memiliki strategi harga, distribusi kamar, promosi, pengembangan pengalaman tamu, serta efisiensi operasional yang lebih baik.

Kondisi tersebut juga berlaku bagi restoran dan coffee shop. Ramainya pasar tidak menjamin setiap bisnis akan memperoleh keuntungan apabila biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa, dan promosi tidak dikelola secara tepat.

Perkembangan HoReCa (Hotel, Restaurant, & Cafe) Membuka Peluang Bisnis Baru

Pertumbuhan hotel, restoran, katering, dan coffee shop menciptakan peluang yang jauh lebih luas daripada sekadar penjualan makanan kepada konsumen.

Di balik satu menu yang disajikan di restoran, terdapat rantai pasok bahan baku, mesin, kemasan, logistik, tenaga kerja, teknologi, hingga proses pengendalian kualitas.

Peluang bagi supplier bahan baku dan distributor

Konsistensi bahan baku menjadi kebutuhan utama dalam industri F&B. Restoran, katering, bakery, dan hotel membutuhkan pemasok yang mampu menyediakan produk dengan kualitas, volume, harga, dan jadwal pengiriman yang stabil.

Peluang ini mencakup berbagai kategori, seperti:

  • daging dan hasil laut;
  • sayuran dan buah;
  • rempah-rempah;
  • produk susu;
  • tepung dan bahan bakery;
  • kopi dan teh;
  • saus dan bumbu;
  • makanan beku;
  • minyak dan bahan pengolahan;
  • serta produk makanan siap saji.

Pelaku usaha yang mampu menjaga kualitas dan kepastian pasokan memiliki peluang membangun hubungan jangka panjang dengan buyer industri.

Berbeda dari pasar konsumen, pembelian B2B biasanya dilakukan secara berulang dan dalam jumlah lebih besar. Namun, buyer juga memiliki standar yang lebih ketat mengenai keamanan pangan, sertifikasi, ketertelusuran produk, dan konsistensi spesifikasi.

Karena itu, pemasok perlu membangun sistem produksi dan distribusi yang dapat diandalkan, bukan hanya menawarkan harga murah.

Kitchen equipment menjadi kebutuhan strategis

Peralatan dapur profesional tidak lagi sekadar menjadi aset pendukung. Peralatan yang tepat dapat menentukan kecepatan pelayanan, kapasitas produksi, kualitas makanan, konsumsi energi, dan tingkat pemborosan bahan baku.

Restoran yang berkembang dari satu menjadi beberapa cabang, misalnya, membutuhkan sistem produksi yang semakin terstandardisasi. Proses yang sebelumnya dapat dikerjakan secara manual mungkin tidak lagi efektif ketika jumlah pesanan meningkat.

Permintaan pun berkembang untuk produk seperti:

  • oven profesional;
  • mesin pendingin;
  • freezer;
  • food processor;
  • coffee machine;
  • display warmer;
  • mesin pengemasan;
  • perangkat penyimpanan;
  • sistem pencucian;
  • serta perlengkapan keamanan dan sanitasi.

Bagi penyedia peralatan, peluang tidak hanya berasal dari penjualan mesin. Perusahaan juga dapat menawarkan instalasi, pelatihan, perawatan, suku cadang, dan layanan purnajual.

Model layanan tersebut sangat penting karena gangguan pada satu mesin utama dapat memengaruhi seluruh kegiatan operasional restoran atau hotel.

Digitalisasi membantu bisnis mengontrol biaya

Persaingan yang semakin ketat membuat pelaku HoReCa harus lebih disiplin dalam mengendalikan operasional.

Banyak bisnis memiliki penjualan yang tinggi, tetapi memperoleh margin kecil karena pemborosan bahan, pencatatan stok yang tidak akurat, promo berlebihan, atau biaya operasional yang tidak terpantau.

Teknologi dapat membantu mengurangi permasalahan tersebut melalui:

  • sistem point of sale;
  • manajemen inventaris;
  • pemantauan food cost;
  • pencatatan resep;
  • integrasi pesanan;
  • reservasi digital;
  • sistem loyalitas;
  • manajemen hubungan pelanggan;
  • hingga analisis performa menu.

Data transaksi dapat membantu bisnis mengetahui produk paling laris, menu dengan margin tertinggi, waktu tersibuk, efektivitas promosi, serta perilaku pembelian pelanggan.

Bagi hotel, digitalisasi juga dapat digunakan untuk mengelola reservasi, housekeeping, permintaan tamu, pendapatan kamar, dan penggunaan energi.

Teknologi tidak selalu harus rumit. Bahkan pencatatan stok dan biaya produksi yang lebih terstruktur sudah dapat membantu bisnis mengambil keputusan dengan lebih tepat.

Produk lokal memiliki peluang naik kelas

Indonesia mempunyai kekayaan bahan pangan yang dapat menjadi keunggulan kompetitif industri F&B.

Kopi, kakao, kelapa, rempah-rempah, buah tropis, hasil laut, beras, umbi, serta berbagai makanan khas daerah memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Namun, produk lokal perlu memenuhi kebutuhan pasar modern. Kualitas yang baik saja belum cukup apabila produk tidak memiliki kemasan yang sesuai, pasokan tidak stabil, atau informasi spesifikasinya tidak jelas.

Agar dapat digunakan oleh hotel, restoran besar, pasar modern, maupun buyer internasional, produsen perlu memperhatikan:

  • konsistensi kualitas;
  • keamanan pangan;
  • kapasitas produksi;
  • desain kemasan;
  • umur simpan;
  • sertifikasi;
  • ketertelusuran bahan;
  • serta kesiapan distribusi.

Produk lokal yang memenuhi persyaratan tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan baku premium, produk hotel, menu restoran, oleh-oleh modern, atau komoditas ekspor.

Specialty coffee dan bakery masih memiliki ruang berkembang

Kopi dan bakery menjadi dua kategori yang terus berkembang dalam ekosistem F&B.

Pasar kopi tidak hanya mencakup penjualan minuman. Rantai bisnisnya meliputi petani, pengolah biji kopi, roastery, distributor, produsen mesin, alat seduh, pelatihan barista, kemasan, serta coffee shop.

Hal yang sama terjadi pada industri bakery dan pastry. Pertumbuhan bakery mendorong permintaan terhadap tepung, mentega, cokelat, bahan tambahan, oven, mixer, pendingin, kemasan, hingga tenaga profesional.

Namun, kedua kategori tersebut juga memiliki tingkat persaingan tinggi. Pelaku bisnis perlu menghadirkan diferensiasi melalui kualitas, cerita produk, pelayanan, inovasi menu, dan pengalaman pelanggan.

Efisiensi dan konsistensi menjadi tantangan utama

Walaupun pasarnya besar, industri F&B terkenal memiliki tingkat persaingan dan tekanan biaya yang tinggi.

Pelaku usaha menghadapi perubahan harga bahan baku, biaya tenaga kerja, sewa tempat, energi, distribusi, dan pemasaran. Pada saat bersamaan, pelanggan mengharapkan harga yang kompetitif dan kualitas yang konsisten.

Beberapa bisnis juga menghadapi pemborosan karena membeli terlalu banyak bahan, memiliki menu terlalu luas, atau tidak mengetahui biaya produksi setiap produk.

Untuk menjaga keberlanjutan usaha, pelaku bisnis perlu memahami:

  • biaya bahan setiap menu;
  • margin kotor;
  • biaya tenaga kerja;
  • tingkat pemborosan;
  • perputaran persediaan;
  • nilai rata-rata transaksi;
  • serta kontribusi setiap produk terhadap keuntungan.

Pertumbuhan omzet tidak selalu berarti bisnis semakin sehat. Apabila kenaikan penjualan diikuti biaya yang tumbuh lebih cepat, keuntungan justru dapat menurun.

Nusantara Food & Hotel Expo 2026 Menjadi Cerminan Optimisme Industri

Nusantara Food & Hotel Expo 2026 hadir pada saat industri F&B dan hospitality sedang mencari peluang pertumbuhan baru sekaligus menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi.

Pameran ini menjadi tempat bertemunya produk lokal, teknologi, talenta profesional, buyer, distributor, dan pelaku bisnis dari berbagai bagian ekosistem HoReCa.

Menjadi tempat bertemunya buyer dan supplier

Dalam industri B2B, hubungan bisnis sering kali membutuhkan lebih dari sekadar komunikasi melalui katalog digital.

Buyer ingin melihat produk, memeriksa spesifikasi, mencoba mesin, mencicipi bahan makanan, memahami kapasitas pemasok, serta berdiskusi mengenai harga dan dukungan operasional.

Pameran memberikan ruang bagi proses tersebut.

Melalui NFH Expo 2026, hotel, restoran, katering, coffee shop, dan distributor dapat menemukan supplier baru serta membandingkan berbagai solusi secara langsung.

Bagi exhibitor, pameran juga menjadi kesempatan untuk:

  • memperkenalkan produk baru;
  • menemukan distributor;
  • membangun jaringan;
  • mendapatkan prospek penjualan;
  • menguji respons pasar;
  • serta menjalin kemitraan jangka panjang.

Dengan demikian, nilai sebuah expo tidak hanya diukur dari transaksi yang terjadi selama acara. Dampaknya dapat berlanjut melalui kerja sama dan hubungan bisnis yang terbentuk setelah pameran selesai.

Ratusan brand menghadirkan solusi industri

NFH Expo 2026 menghadirkan beragam produk untuk kebutuhan industri makanan, minuman, dan hospitality.

Kategori yang ditampilkan mencakup bahan baku makanan dan minuman, bakery, pastry, kopi, peralatan dapur profesional, teknologi pengolahan pangan, perlengkapan hotel, hingga solusi pendukung operasional.

Kehadiran brand seperti GEA GETRA, GASTRO, Barco, Lee Kum Kee, Tofico, Sango, dan berbagai exhibitor lainnya memperlihatkan luasnya ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri.

Bagi pengunjung bisnis, keberagaman tersebut memungkinkan mereka melihat perkembangan teknologi dan mencari produk yang sesuai dengan skala usahanya.

Sebuah restoran kecil mungkin membutuhkan peralatan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Sementara itu, jaringan hotel dapat mencari solusi yang mampu memberikan standardisasi dan efisiensi di banyak lokasi.

Kompetisi kopi memperkuat kualitas industri

Dalam sektor kopi, NFH Expo 2026 menghadirkan Indonesia Brewers Championship Regional Barat bersama Specialty Coffee Association of Indonesia.

Kompetisi tersebut menjadi wadah bagi para brewer untuk menunjukkan kemampuan dalam teknik manual brewing dan memperebutkan kesempatan melaju ke tingkat nasional.

Kegiatan seperti ini penting karena pertumbuhan industri kopi tidak hanya bergantung pada jumlah coffee shop. Kualitas sumber daya manusia juga menentukan pengalaman yang diterima pelanggan.

Kemampuan brewer, pemahaman terhadap karakter biji kopi, konsistensi penyeduhan, serta kemampuan menjelaskan produk menjadi bagian dari nilai yang ditawarkan kepada konsumen.

Kompetisi juga dapat mendorong pertukaran pengetahuan antara barista, roaster, produsen kopi, dan pelaku bisnis.

Nusantara Culinary Challenge mengembangkan talenta profesional

NFH Expo 2026 turut menghadirkan Nusantara Culinary Challenge bersama Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia dan Association of Culinary Professionals Indonesia.

Kompetisi kuliner dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, meningkatkan standar profesi, dan memperkenalkan kekayaan makanan Nusantara.

Talenta profesional memiliki peran penting dalam industri hospitality. Teknologi dan bahan baku yang baik tidak akan menghasilkan pengalaman maksimal tanpa chef, baker, barista, pramusaji, serta tim operasional yang kompeten.

Pengembangan kompetensi menjadi semakin relevan karena pelanggan tidak hanya menilai rasa makanan. Mereka juga memperhatikan tampilan, kebersihan, pelayanan, kecepatan, suasana, dan keseluruhan pengalaman.

Jalur Rempah menghubungkan warisan dengan peluang bisnis

Instalasi Jalur Rempah dalam NFH Expo 2026 memperkenalkan perjalanan rempah Nusantara serta perannya dalam sejarah perdagangan dan perkembangan kuliner Indonesia.

Pembahasan rempah memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar nostalgia sejarah.

Rempah masih mempunyai potensi besar sebagai bahan baku makanan, minuman, kesehatan, kosmetik, dan produk ekspor. Namun, nilai ekonominya dapat meningkat apabila produk diolah, dikemas, dan dipasarkan dengan standar yang lebih baik.

Pelaku usaha dapat mengembangkan rempah menjadi:

  • bumbu siap pakai;
  • campuran minuman;
  • produk artisan;
  • saus;
  • bahan bakery;
  • produk wellness;
  • atau bahan baku industri.

Melalui inovasi dan kolaborasi, warisan kuliner dapat menjadi sumber peluang bisnis baru.

Cooking demo, workshop, dan talkshow mempercepat transfer pengetahuan

Selain menjadi tempat pameran produk, NFH Expo 2026 menghadirkan cooking demo, workshop, business talkshow, dan peluncuran produk.

Program tersebut memberi kesempatan kepada pengunjung untuk mempelajari penggunaan produk, memahami teknologi baru, serta memperoleh insight langsung dari praktisi.

Bagi pelaku usaha kecil dan menengah, akses terhadap informasi seperti ini sangat penting. Banyak bisnis memiliki produk yang baik, tetapi masih membutuhkan pengetahuan mengenai standardisasi, produksi, manajemen biaya, pemasaran, dan perluasan pasar.

Pertukaran wawasan dalam sebuah expo dapat membantu pelaku usaha mengidentifikasi perubahan pasar lebih cepat.

Seberapa Besar Potensi Industri F&B dan Hospitality Indonesia?

Data pertumbuhan ekonomi, kontribusi industri pengolahan, tingginya mobilitas wisatawan, dan pertumbuhan sektor akomodasi serta makan minum menunjukkan bahwa potensi industri F&B dan hospitality Indonesia masih sangat luas.

Indonesia memiliki beberapa fondasi penting:

  • populasi konsumen yang besar;
  • budaya kuliner yang beragam;
  • pasar perjalanan domestik yang aktif;
  • kekayaan bahan pangan lokal;
  • pertumbuhan kota-kota ekonomi baru;
  • peningkatan kebutuhan produk praktis;
  • serta perkembangan teknologi operasional.

Namun, besarnya pasar juga menarik semakin banyak pemain. Pelaku usaha harus mampu membangun diferensiasi, menjaga kualitas, memahami biaya, dan mengembangkan sistem yang dapat mendukung pertumbuhan.

Peluang terbesar tidak selalu berada pada kategori yang sedang viral. Bisnis yang menawarkan solusi nyata bagi industri—seperti efisiensi, konsistensi, keamanan pangan, kemudahan distribusi, dan peningkatan pengalaman pelanggan—berpotensi memiliki pasar yang lebih berkelanjutan.

NFH Expo 2026 menunjukkan bahwa masa depan industri ini tidak hanya ditentukan oleh restoran atau hotel sebagai wajah utama bisnis. Pertumbuhannya juga bergantung pada supplier, produsen, distributor, penyedia teknologi, asosiasi, komunitas, serta tenaga profesional yang bekerja di belakangnya.

Temukan Peluang Industri di Nusantara Food & Hotel Expo!

Perkembangan industri F&B dan hospitality membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menemukan pasar baru, meningkatkan efisiensi, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

Read More

Other Insights