Skip to main content

Hi-Fella Insights

Kebakaran Hutan dan Krisis Lingkungan: Bagaimana Dampaknya terhadap Industri Perkebunan dan Agribisnis?

October 31, 2026

Jump to a Section

Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

Jump to a Section

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan yang menyebabkan kerusakan ekosistem dan pencemaran udara. Di Indonesia, fenomena ini juga memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas ekonomi, terutama industri perkebunan, kehutanan, pengolahan hasil pertanian, dan perdagangan komoditas.

Dampaknya dapat menjangkau berbagai tahapan kegiatan usaha. Kebakaran di sekitar kawasan perkebunan berpotensi mengganggu produktivitas tanaman, merusak infrastruktur operasional, menghambat distribusi hasil panen, hingga memengaruhi hubungan bisnis antara perusahaan perkebunan dan pembeli internasional.

Persoalan ini semakin relevan pada 2026 ketika Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kondisi cuaca kering, pengelolaan lahan gambut, serta meningkatnya risiko penyebaran api menjadi sejumlah faktor yang memperbesar ancaman terhadap kawasan perkebunan dan hutan produksi.

Berdasarkan data satelit Nusantara Atlas yang dikutip Reuters pada 20 Oktober 2026, akumulasi area terbakar di Indonesia mencapai sekitar 1,92 juta hektare hingga akhir September 2026. Angka tersebut merupakan estimasi pemantauan satelit dan perlu dibedakan dari angka resmi luas kebakaran yang dihitung menggunakan metodologi pemerintah.

Di tengah situasi tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada dampak lingkungan, tetapi juga pada perusahaan-perusahaan yang memiliki kegiatan perkebunan dan rantai pasok komoditas di wilayah terdampak.

Indonesia merupakan salah satu pusat produksi dan perdagangan komoditas perkebunan dunia. Kelapa sawit, karet, kakao, kopi, kelapa, dan produk kehutanan memiliki peran penting dalam kegiatan ekspor, industri pengolahan, serta penciptaan lapangan kerja.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian per Oktober 2026, nilai ekspor komoditas perkebunan hingga Agustus 2026 mencapai Rp503,3 triliun. Kelapa sawit menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp355,3 triliun, disusul karet Rp35 triliun, kelapa Rp29,4 triliun, kakao Rp26 triliun, dan kopi Rp21,5 triliun.

Besarnya kontribusi tersebut memperlihatkan bahwa gangguan terhadap sektor perkebunan dapat memberikan dampak ekonomi yang luas.

Lantas, bagaimana kebakaran hutan memengaruhi industri perkebunan dan agribisnis? Siapa saja perusahaan besar yang memiliki keterkaitan dengan rantai pasok komoditas tersebut, ke mana hasil produksinya mengalir, dan apa risiko yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri?

Mengapa Kebakaran Hutan Menjadi Risiko bagi Industri Perkebunan?

Industri perkebunan memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi lingkungan. Ketersediaan lahan, kualitas tanah, curah hujan, kondisi ekosistem, dan stabilitas iklim merupakan faktor yang memengaruhi produktivitas tanaman.

Ketika kebakaran terjadi di kawasan perkebunan maupun wilayah sekitarnya, dampaknya dapat muncul melalui beberapa mekanisme.

Pertama, api dapat merusak tanaman produktif dan mengurangi luas lahan yang dapat digunakan untuk kegiatan perkebunan. Pada komoditas seperti kelapa sawit, kerusakan tanaman dapat memengaruhi produksi tandan buah segar (TBS) dalam jangka panjang karena tanaman membutuhkan waktu untuk kembali mencapai usia produktif.

Kedua, kebakaran pada lahan gambut dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang lebih kompleks. Gambut yang mengering menjadi lebih mudah terbakar, sementara kebakaran bawah permukaan dapat berlangsung lebih lama dan sulit dipadamkan.

Ketiga, kabut asap dapat mengganggu aktivitas pekerja, transportasi, dan operasional fasilitas pengolahan. Kondisi ini berpotensi memperlambat pengangkutan hasil panen menuju pabrik maupun distribusi produk ke pelabuhan.

Keempat, kebakaran yang berkaitan dengan kawasan perkebunan dapat meningkatkan risiko reputasi dan kepatuhan perusahaan terhadap standar keberlanjutan. Hal ini menjadi penting karena banyak perusahaan agribisnis Indonesia terhubung dengan pembeli internasional yang memiliki kebijakan lingkungan dan ketertelusuran bahan baku.

Dengan demikian, risiko kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan fisik di area perkebunan, tetapi juga dapat memengaruhi keberlangsungan hubungan bisnis dan akses pasar.

Efek Domino Kebakaran Hutan terhadap Rantai Pasok Agribisnis

Untuk memahami besarnya dampak ekonomi, kebakaran hutan perlu dilihat sebagai gangguan terhadap suatu ekosistem bisnis yang saling terhubung.

Rantai pasok agribisnis umumnya melibatkan beberapa tahapan, mulai dari produksi di perkebunan, pengumpulan hasil panen, pengolahan bahan mentah, penyimpanan, transportasi, hingga distribusi kepada pembeli domestik dan internasional.

Ketika salah satu tahapan terganggu, dampaknya dapat merambat ke perusahaan lain yang bergantung pada pasokan tersebut.

1. Produktivitas Perkebunan dan Ketersediaan Bahan Baku Terganggu

Dampak pertama terjadi pada tingkat produksi perkebunan.

Kebakaran yang memasuki area tanaman dapat merusak pohon, tanaman muda, infrastruktur perkebunan, serta fasilitas pendukung seperti jalan operasional dan sistem pengelolaan air.

Pada perkebunan kelapa sawit, gangguan produksi menjadi perhatian penting karena tanaman membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai usia produktif. Kerusakan tanaman yang sudah menghasilkan dapat mengurangi volume panen, sementara penanaman kembali membutuhkan waktu dan biaya tambahan.

Selain kerusakan langsung, kondisi kekeringan yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi produktivitas tanaman melalui perubahan ketersediaan air dan kondisi tanah.

Dampaknya dapat dirasakan oleh perusahaan perkebunan besar maupun petani plasma dan pekebun swadaya yang menjadi bagian dari jaringan pemasok.

Apabila volume panen menurun, pasokan bahan baku untuk pabrik pengolahan juga berpotensi mengalami gangguan.

2. Pabrik Pengolahan Menghadapi Risiko Kekurangan Bahan Baku

Tahapan berikutnya adalah fasilitas pengolahan hasil perkebunan.

Dalam industri kelapa sawit, tandan buah segar harus segera dikirim ke pabrik kelapa sawit untuk diproses menjadi crude palm oil (CPO) dan palm kernel.

Apabila kebakaran mengganggu akses perkebunan atau distribusi TBS, pabrik dapat menghadapi keterlambatan pasokan bahan baku.

Kondisi tersebut dapat menurunkan utilisasi kapasitas produksi dan meningkatkan biaya operasional per unit produk.

Situasi serupa juga dapat terjadi pada industri pengolahan kayu, pulp dan kertas, karet, serta komoditas pertanian lainnya.

Pada industri pulp dan kertas, misalnya, ketersediaan kayu dari hutan tanaman industri menjadi faktor penting untuk menjaga kelangsungan proses produksi. Gangguan terhadap pasokan serat kayu dapat memengaruhi jadwal pengolahan dan pemenuhan kontrak pengiriman.

3. Distributor dan Perusahaan Pengolahan Hilir Ikut Terdampak

Gangguan pasokan bahan baku dapat merambat ke perusahaan yang berada di sektor hilir.

Perusahaan pengolahan minyak sawit, produsen minyak goreng, margarin, oleokimia, biodiesel, dan berbagai produk berbasis minyak nabati membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten.

Apabila pasokan CPO atau produk turunannya mengalami gangguan, perusahaan dapat menghadapi kenaikan biaya pengadaan atau harus mencari pemasok alternatif.

Hal tersebut juga dapat memengaruhi distributor dan perusahaan perdagangan komoditas yang memiliki kontrak pengadaan dalam jumlah besar.

Dalam rantai pasok global, perubahan ketersediaan bahan baku di Indonesia dapat memengaruhi perencanaan pengadaan perusahaan pengolahan makanan, kosmetik, produk perawatan pribadi, dan industri kimia di negara lain.

4. Distribusi dan Logistik Mengalami Hambatan

Kebakaran hutan juga dapat memberikan dampak terhadap distribusi barang.

Kabut asap dengan jarak pandang terbatas dapat mengganggu transportasi darat, aktivitas penerbangan, serta operasional pelabuhan dalam kondisi tertentu.

Reuters melaporkan bahwa sejak 11 Agustus hingga 20 Oktober 2026, terdapat 2.604 penerbangan domestik yang terdampak kebakaran dan kabut asap, dengan lebih dari 1.400 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan.

Selain itu, kebakaran di sekitar kawasan perkebunan dapat merusak akses jalan dan infrastruktur yang digunakan untuk mengangkut hasil panen.

Apabila pengiriman bahan baku terlambat, perusahaan pengolahan perlu menyesuaikan jadwal produksi dan persediaan.

Dampaknya dapat menjadi lebih besar ketika perusahaan memiliki jaringan distribusi lintas wilayah atau kontrak pengiriman internasional yang harus dipenuhi dalam periode tertentu.

5. Harga Komoditas dan Biaya Pengadaan Berpotensi Berubah

Gangguan terhadap produksi dan distribusi dapat memengaruhi keseimbangan antara penawaran dan permintaan komoditas.

Apabila pasokan suatu komoditas mengalami penurunan sementara permintaannya tetap tinggi, harga pengadaan berpotensi meningkat.

Namun, hubungan tersebut tidak selalu berlangsung secara langsung karena harga komoditas juga dipengaruhi oleh persediaan global, produksi negara lain, nilai tukar, kebijakan perdagangan, dan permintaan pasar.

Bagi perusahaan manufaktur yang menggunakan minyak sawit, karet, kayu, dan produk pertanian lainnya sebagai bahan baku, perubahan harga dapat memengaruhi struktur biaya produksi.

6. Reputasi Perusahaan dan Akses Pasar Internasional Terancam

Efek domino berikutnya berkaitan dengan aspek yang semakin penting dalam perdagangan global, yaitu keberlanjutan dan ketertelusuran rantai pasok.

Pembeli internasional tidak hanya mempertimbangkan harga dan kualitas produk, tetapi juga asal bahan baku, praktik pengelolaan lahan, serta kepatuhan terhadap standar lingkungan.

Apabila perusahaan atau pemasoknya dikaitkan dengan deforestasi dan kebakaran lahan, perusahaan dapat menghadapi peningkatan pemeriksaan, permintaan audit, peninjauan kontrak, hingga pembatasan pembelian dari pemasok tertentu.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan agribisnis yang memiliki jaringan pemasok luas dan melibatkan banyak pihak di sepanjang rantai pasok.

Dengan kata lain, dampak kebakaran dapat meluas dari tingkat perkebunan hingga hubungan perdagangan internasional.

Perusahaan Besar Perkebunan dan Agribisnis di Indonesia

Untuk memahami keterkaitan antara kebakaran hutan dan industri agribisnis, penting untuk melihat perusahaan-perusahaan yang memiliki peran besar dalam produksi, pengolahan, dan perdagangan komoditas nasional.

Beberapa kelompok usaha berikut memiliki jaringan bisnis terintegrasi, mulai dari perkebunan hingga produk hilir.

Perusahaan-perusahaan ini merupakan contoh pemain besar dan relevan untuk memahami struktur industri, bukan daftar perusahaan yang terbukti menyebabkan kebakaran.

1. Golden Agri-Resources (GAR) – Sinar Mas Group

Golden Agri-Resources (GAR) merupakan salah satu kelompok usaha kelapa sawit terintegrasi yang memiliki operasi perkebunan dan pengolahan di Indonesia.

Berdasarkan Annual Report 2025, GAR mengelola sekitar 531.355 hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia, termasuk perkebunan yang melibatkan petani plasma.

Perusahaan mencatat produksi sekitar 2,8 juta ton CPO dan palm kernel pada 2025. Model bisnisnya mencakup berbagai tahapan, mulai dari budidaya kelapa sawit, pengolahan TBS menjadi CPO dan palm kernel, hingga produksi minyak goreng, margarin, shortening, biodiesel, dan oleokimia.

Gambaran rantai pasok GAR:

  • Hulu: Perkebunan kelapa sawit dan petani plasma di Indonesia.
  • Pengolahan awal: Pabrik kelapa sawit yang menghasilkan CPO dan palm kernel.
  • Hilir: Pengolahan minyak nabati, biodiesel, oleokimia, dan produk pangan.
  • Pasar: Konsumen domestik, perusahaan pengolahan makanan, industri kimia, serta pembeli internasional.

GAR memiliki jaringan pemasaran global dengan produk yang dipasarkan ke lebih dari 110 negara. Artinya, bahan baku yang dihasilkan di Indonesia dapat menjadi bagian dari produk yang digunakan oleh berbagai industri di pasar internasional.

Dalam konteks kebakaran 2026, GAR termasuk perusahaan yang diminta memberikan penjelasan kepada Singapore Exchange terkait kebijakan pencegahan kebakaran, pengawasan konsesi, dan kemungkinan dampak kabut asap terhadap kegiatan usaha.

GAR menyatakan memiliki kebijakan zero-burning dan sistem pemantauan kebakaran. Perusahaan juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang dimilikinya, tidak terdapat temuan yang menyatakan bahwa operasinya berkontribusi terhadap kebakaran dan kabut asap yang menjadi perhatian pada periode tersebut.

2. Wilmar International – Wilmar Nabati Indonesia

Wilmar International merupakan kelompok agribisnis global dengan aktivitas bisnis yang mencakup perkebunan, pengolahan minyak nabati, perdagangan komoditas, dan distribusi produk pangan.

Berdasarkan laporan tahunan 2025, Wilmar memiliki total area tertanam kelapa sawit sekitar 234.334 hektare secara global, dengan sekitar 66% berada di Indonesia.

Salah satu aspek penting dari model bisnis Wilmar adalah jaringan pengadaan bahan baku yang luas.

Perusahaan mengidentifikasi lebih dari 850 pabrik kelapa sawit yang memasok jaringan refinery di Indonesia dan Malaysia. Setiap fasilitas refinery umumnya memiliki jaringan sekitar 50–100 pabrik pemasok CPO dan palm kernel.

Gambaran rantai pasok Wilmar:

  • Hulu: Perkebunan sendiri, petani swadaya, dan pemasok TBS.
  • Pengolahan awal: Pabrik kelapa sawit yang menghasilkan CPO dan palm kernel.
  • Hilir: Refinery, pengolahan minyak nabati, oleokimia, biodiesel, dan produk pangan.
  • Pasar: Industri makanan, perusahaan consumer goods, industri kimia, energi, serta pasar internasional.

Jaringan pemasok yang luas membuat ketertelusuran bahan baku menjadi aspek penting dalam pengelolaan risiko lingkungan.

Pada Oktober 2026, Wilmar termasuk perusahaan yang diminta memberikan informasi tambahan terkait hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang menerima preventive measure notices dari otoritas Singapura.

Pada 29 Oktober, Wilmar menyatakan akan bekerja sama dengan otoritas terkait dan memberikan akses kepada tim penilai terhadap operasional, catatan, serta rantai pasoknya.

3. Indofood Agri Resources – Indofood Group

Indofood Agri Resources merupakan salah satu kelompok usaha agribisnis yang memiliki hubungan erat dengan industri pangan nasional.

Perusahaan menjalankan bisnis perkebunan kelapa sawit, gula, karet, teh, dan kakao. Kegiatan usahanya juga terhubung dengan pengolahan minyak nabati dan produk pangan.

Berdasarkan Annual Report 2025, IndoAgri memiliki sekitar 280.975 hektare area tanaman tertanam di Indonesia, serta sekitar 91.352 hektare area plasma untuk kelapa sawit dan karet.

Perusahaan juga mengoperasikan 27 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas pengolahan TBS sekitar 7,2 juta ton per tahun, serta lima fasilitas refinery dengan kapasitas pengolahan CPO sekitar 1,9 juta ton per tahun.

Gambaran rantai pasok IndoAgri:

  • Hulu: Perkebunan kelapa sawit, tebu, karet, dan komoditas lainnya.
  • Pengolahan: Pabrik kelapa sawit, fasilitas pengolahan karet, dan pabrik gula.
  • Hilir: Minyak goreng, margarin, shortening, produk gula, dan bahan pangan.
  • Pasar: Konsumen domestik, industri makanan, dan jaringan distribusi produk pangan.

Keterkaitan IndoAgri dengan ekosistem pangan menjadi menarik untuk dianalisis karena gangguan pada sektor perkebunan dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan makanan.

Dalam perkembangan Oktober 2026, Indofood Agri termasuk kelompok perusahaan yang diminta memberikan informasi tambahan oleh SGX terkait hubungan dengan perusahaan penerima pemberitahuan pencegahan dan pengelolaan risiko kebakaran. Permintaan tersebut bukan penetapan tanggung jawab atas kebakaran.

4. Astra Agro Lestari (AALI) – Astra Group

Astra Agro Lestari merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit besar di Indonesia.

Kegiatan operasional perusahaan mencakup perkebunan kelapa sawit, pabrik pengolahan TBS, pengolahan inti sawit, serta kegiatan pengolahan produk minyak sawit.

Berdasarkan Annual Report 2025, perusahaan mengelola sekitar 280.325 hektare perkebunan kelapa sawit, termasuk area inti dan plasma.

Perkebunannya tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Gambaran rantai pasok Astra Agro:

  • Hulu: Perkebunan inti dan plasma.
  • Pengolahan awal: Pabrik kelapa sawit dan pengolahan inti sawit.
  • Hilir: Produk CPO, palm kernel, dan produk turunannya.
  • Pasar: Trader, perusahaan pengolahan minyak nabati, serta industri hilir.

Skala operasional yang tersebar di berbagai pulau membuat pengelolaan risiko lingkungan dan pengawasan pemasok menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi.

Astra Agro menjadi contoh perusahaan yang memperlihatkan bagaimana kegiatan perkebunan, pengolahan, dan distribusi saling berkaitan. Namun, perusahaan ini tidak boleh secara otomatis dikaitkan dengan kebakaran yang sedang diperiksa hanya karena beroperasi di industri perkebunan.

5. Asia Pulp & Paper (APP) – Sinar Mas Group

Selain kelapa sawit, industri kehutanan dan pulp and paper juga memiliki keterkaitan erat dengan persoalan kebakaran hutan.

Asia Pulp & Paper (APP) merupakan salah satu kelompok usaha besar dalam industri pulp, kertas, dan produk turunannya di Indonesia.

Berbeda dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, rantai pasok APP berfokus pada pengadaan serat kayu dari hutan tanaman industri, pengolahan menjadi pulp, serta produksi berbagai jenis kertas dan produk kemasan.

Gambaran rantai pasok APP:

  • Hulu: Hutan tanaman industri dan pemasok kayu.
  • Pengolahan: Pabrik pulp dan pengolahan serat kayu.
  • Hilir: Kertas, tisu, karton, dan kemasan.
  • Pasar: Industri percetakan, pengemasan, consumer goods, serta pembeli domestik dan internasional.

Tiga fasilitas pengolahan yang dikenal dalam jaringan APP adalah Indah Kiat Perawang, Lontar Papyrus, dan OKI Mill.

Kebakaran pada kawasan hutan tanaman industri dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku dan kesinambungan operasional pabrik pulp.

Dalam perkembangan Oktober 2026, tiga perusahaan pemasok APP, yaitu PT Bumi Andalas Permai, PT Bumi Mekar Hijau, dan PT SBA Wood Industries, termasuk perusahaan yang menerima preventive measure notices dari otoritas Singapura.

Keterkaitan sebagai pemasok tersebut menjadi penting dalam analisis rantai pasok, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa APP sebagai kelompok usaha menyebabkan kebakaran.

Ringkasan Perusahaan dan Rantai Pasok

PerusahaanKomoditas utamaProduk hilir
Golden Agri-ResourcesKelapa sawitMinyak goreng, biodiesel, oleokimia
Wilmar InternationalKelapa sawit dan agribisnisPangan, minyak nabati, biodiesel, oleokimia
Indofood AgriSawit, gula, karet, teh, kakaoMinyak goreng, margarin, produk pangan
Astra Agro LestariKelapa sawitCPO dan produk turunan
Asia Pulp & PaperKayu dan seratPulp, kertas, tisu, kemasan

Perusahaan-perusahaan tersebut memperlihatkan bagaimana satu komoditas dapat melewati beberapa tahap pengolahan sebelum menjadi produk akhir.

Karena itu, gangguan pada tingkat perkebunan dapat memiliki konsekuensi terhadap berbagai perusahaan yang berada di tahap hilir.

Ke Mana Hasil Perkebunan Indonesia Mengalir? Memahami Rantai Pasok Global

Salah satu hal yang membuat industri perkebunan Indonesia memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan internasional adalah jaringan distribusinya yang terhubung dengan banyak negara.

Hasil perkebunan tidak selalu diekspor dalam bentuk bahan mentah. Sebagian komoditas diolah terlebih dahulu menjadi produk setengah jadi maupun produk bernilai tambah sebelum dipasarkan ke berbagai negara.

1. Kelapa Sawit: Dari Perkebunan hingga Industri Pangan dan Energi

Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan dengan kontribusi ekspor terbesar Indonesia.

Rantai pasoknya dimulai dari perkebunan yang menghasilkan TBS. Buah tersebut kemudian diolah di pabrik kelapa sawit menjadi CPO dan palm kernel.

CPO selanjutnya dapat diproses menjadi refined, bleached, and deodorized (RBD) palm oil, olein, stearin, serta berbagai produk turunan lainnya.

Produk-produk tersebut memiliki banyak kegunaan, antara lain:

  • Industri makanan: Minyak goreng, margarin, shortening, dan bahan baku makanan olahan.
  • Industri kosmetik: Sabun, produk perawatan kulit, dan berbagai bahan oleokimia.
  • Industri kimia: Fatty acids, fatty alcohols, dan bahan surfaktan.
  • Industri energi: Biodiesel dan produk biofuel.

Dalam perdagangan internasional, produk sawit Indonesia memiliki pasar di India, Tiongkok, Pakistan, negara-negara Uni Eropa, dan berbagai negara lainnya.

Selain pasar ekspor, konsumsi domestik juga memiliki peran besar. Analisis Trase yang diterbitkan pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa lebih dari separuh produksi minyak sawit Indonesia dikonsumsi di dalam negeri pada 2024, antara lain untuk kebutuhan pangan dan biodiesel.

Temuan ini memperlihatkan bahwa risiko lingkungan dalam industri sawit tidak hanya berhubungan dengan pasar ekspor, tetapi juga dengan ketahanan rantai pasok domestik.

2. Kayu dan Pulp: Dari Hutan Tanaman Industri hingga Kemasan

Industri pulp dan kertas memiliki rantai pasok yang berbeda dari kelapa sawit, tetapi sama-sama bergantung pada ketersediaan lahan dan pengelolaan sumber daya alam.

Kayu dari hutan tanaman industri diolah menjadi serpihan kayu atau wood chips, kemudian diproses menjadi pulp.

Pulp menjadi bahan baku untuk berbagai produk, seperti:

  • Kertas cetak dan tulis.
  • Tisu.
  • Karton dan kemasan.
  • Kertas industri.
  • Produk berbasis serat lainnya.

Produk tersebut kemudian digunakan oleh industri percetakan, perusahaan makanan dan minuman, produsen barang konsumsi, serta perusahaan e-commerce yang membutuhkan kemasan.

Dengan demikian, gangguan pada pasokan serat kayu berpotensi menjangkau industri yang sebenarnya tidak memiliki kegiatan perkebunan maupun kehutanan secara langsung.

3. Karet: Dari Perkebunan hingga Industri Otomotif

Karet merupakan komoditas penting lainnya dalam sektor perkebunan Indonesia.

Getah karet dari perkebunan diolah menjadi berbagai jenis karet alam yang digunakan oleh industri manufaktur.

Produk turunannya memiliki kegunaan dalam:

  • Industri ban kendaraan.
  • Komponen otomotif.
  • Sarung tangan karet.
  • Produk kesehatan.
  • Selang dan komponen industri.
  • Produk karet teknis.

Apabila kebakaran dan kekeringan mengganggu produktivitas perkebunan karet, dampaknya dapat menjangkau produsen barang jadi yang membutuhkan pasokan karet alam secara konsisten.

Hal ini menunjukkan bahwa sektor perkebunan juga memiliki hubungan erat dengan industri manufaktur nonpangan.

Krisis Kebakaran 2026: Perusahaan dan Rantai Pasok Mulai Mendapat Perhatian Internasional

Perkembangan yang menarik pada Oktober 2026 adalah meningkatnya perhatian otoritas Singapura terhadap perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Pada 16 Oktober 2026, National Environment Agency (NEA) Singapura mengumumkan preventive measure notices kepada tujuh perusahaan di Indonesia. Pada 19 Oktober, tiga perusahaan lainnya turut menerima pemberitahuan sehingga jumlahnya menjadi sepuluh.

Pemberitahuan tersebut mengharuskan perusahaan melakukan langkah pencegahan dan penanganan kebakaran, termasuk mengerahkan personel pemadam, menghentikan aktivitas pembakaran, serta menyampaikan rencana penanganan dan pencegahan kebakaran.

Sepuluh perusahaan yang menerima pemberitahuan tersebut adalah:

  1. PT Bumi Andalas Permai.
  2. PT Bumi Mekar Hijau.
  3. PT Paramitra Mulia Langgeng.
  4. PT Sumatera Alam Anugerah.
  5. PT SBA Wood Industries.
  6. PT Hutan Lestari Raya.
  7. PT Bangkanesia.
  8. PT Buana Megatama Jaya.
  9. PT Mananjung Hayak.
  10. PT Baratama Putra Perkasa.

Perlu digarisbawahi bahwa preventive measure notice merupakan pemberitahuan tindakan pencegahan, bukan putusan pengadilan yang menetapkan perusahaan bersalah atas kebakaran.

Keterkaitan Perusahaan dengan Kelompok Usaha dan Pemasok

Salah satu aspek penting dalam perkembangan tersebut adalah keterkaitan antara perusahaan pemegang konsesi, kelompok usaha, pemasok bahan baku, dan pembeli internasional.

Tiga perusahaan yang menerima pemberitahuan, yaitu PT Bumi Andalas Permai, PT Bumi Mekar Hijau, dan PT SBA Wood Industries, disebut sebagai pemasok APP.

Perkembangan ini mendorong otoritas Singapura meminta informasi tambahan dari sejumlah perusahaan yang tercatat di Singapore Exchange (SGX), termasuk Wilmar International, First Resources, Golden Agri-Resources, Bumitama Agri, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, TSH Resources, dan Olam Group.

SGX RegCo meminta perusahaan menjelaskan kebijakan pencegahan kebakaran, sistem pemantauan, hubungan dengan perusahaan penerima pemberitahuan, serta potensi dampak material terhadap kegiatan usaha.

Pada 28 Oktober 2026, regulator kembali meminta pengungkapan tambahan dari tujuh perusahaan.

Mengapa Hal Ini Penting bagi Pembeli Internasional?

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab pengelolaan lingkungan semakin berkaitan dengan pengawasan rantai pasok global.

Perusahaan pembeli tidak hanya perlu mengetahui siapa pemasok langsung mereka, tetapi juga asal bahan baku yang digunakan oleh pemasok tersebut.

Misalnya, sebuah perusahaan makanan internasional membeli minyak sawit olahan dari perusahaan perdagangan. Perusahaan perdagangan tersebut memperoleh CPO dari sejumlah refinery, sementara refinery mendapatkan pasokan dari berbagai pabrik kelapa sawit.

Pabrik kelapa sawit kemudian memperoleh TBS dari perkebunan perusahaan maupun petani independen.

Jika informasi asal bahan baku tidak tersedia secara memadai, pembeli akan kesulitan menilai risiko lingkungan yang mungkin terdapat di sepanjang rantai pasok.

Oleh sebab itu, transparansi dan traceability menjadi semakin penting dalam mempertahankan hubungan perdagangan internasional.

Dampak Kebakaran Hutan terhadap Ekspor dan Perdagangan Internasional

Indonesia memiliki posisi penting dalam perdagangan komoditas perkebunan global. Oleh karena itu, krisis kebakaran hutan tidak hanya menjadi persoalan domestik, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan perdagangan dengan negara-negara mitra.

1. Meningkatnya Pemeriksaan terhadap Produk Berbasis Komoditas

Pembeli internasional semakin memperhatikan asal-usul bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.

Hal ini terutama berlaku bagi perusahaan yang memasok minyak sawit, kayu, pulp, kertas, dan produk pertanian lainnya.

Regulasi seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) juga meningkatkan perhatian terhadap ketertelusuran komoditas yang diperdagangkan ke pasar Uni Eropa.

Komoditas yang tercakup dalam regulasi tersebut antara lain kelapa sawit, kayu, karet, kakao, kopi, kedelai, dan produk turunannya.

Perusahaan yang ingin mempertahankan akses pasar perlu menyiapkan informasi mengenai asal produksi, lokasi lahan, serta kepatuhan terhadap persyaratan bebas deforestasi yang berlaku.

Dengan demikian, perusahaan perkebunan perlu memperkuat sistem dokumentasi dan pengawasan pemasok agar dapat memenuhi kebutuhan pembeli internasional.

2. Risiko Peninjauan Kontrak dan Perubahan Pemasok

Perusahaan manufaktur global memiliki kepentingan untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus mengelola risiko reputasi.

Ketika pemasok menghadapi persoalan lingkungan, pembeli dapat melakukan audit tambahan, meminta bukti ketertelusuran, atau meninjau kembali hubungan komersial.

Dalam kondisi tertentu, pembeli juga dapat mengalihkan sebagian pengadaan kepada pemasok alternatif.

Dampaknya dapat dirasakan oleh perusahaan perkebunan yang bergantung pada pasar ekspor, terutama apabila pembeli memiliki kebijakan no deforestation, no peat, no exploitation (NDPE).

Namun, peninjauan pemasok tidak selalu berarti kontrak langsung dihentikan. Keputusan pembeli bergantung pada hasil investigasi, tingkat keterkaitan pemasok, kebijakan perusahaan, dan bukti yang tersedia.

3. Meningkatnya Biaya Kepatuhan dan Audit Lingkungan

Untuk mempertahankan kepercayaan pembeli, perusahaan perlu meningkatkan investasi pada sistem pemantauan dan pengelolaan lingkungan.

Beberapa kebutuhan tersebut meliputi:

  • Pemantauan titik panas menggunakan citra satelit.
  • Pemetaan konsesi dan lokasi pemasok.
  • Sistem pelacakan bahan baku hingga tingkat perkebunan.
  • Audit lingkungan dan sosial.
  • Pengelolaan kawasan gambut.
  • Program pencegahan kebakaran bersama masyarakat.

Investasi tersebut dapat meningkatkan biaya operasional dalam jangka pendek. Namun, penguatan sistem pengawasan juga dapat membantu perusahaan mengurangi risiko gangguan produksi dan kehilangan akses pasar dalam jangka panjang.

Siapa yang Paling Merasakan Dampak Krisis Kebakaran Hutan?

Dampak kebakaran hutan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar yang mengelola konsesi perkebunan. Ada sejumlah pihak lain yang terhubung dalam rantai pasok dan dapat menghadapi konsekuensi ekonomi.

Pihak terdampakPotensi dampak
Perusahaan perkebunanKerusakan tanaman, penurunan produksi, biaya pemadaman
Petani plasma dan swadayaGangguan panen dan pendapatan
Pabrik pengolahanRisiko kekurangan bahan baku dan penurunan utilisasi
Distributor dan traderKenaikan biaya pengadaan dan risiko keterlambatan
Industri manufakturKetidakpastian pasokan dan harga bahan baku
EksportirAudit tambahan dan risiko akses pasar
Masyarakat sekitarGangguan kesehatan dan aktivitas ekonomi

Salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian adalah petani kecil.

Dalam rantai pasok kelapa sawit, petani plasma dan swadaya memiliki kontribusi penting terhadap produksi bahan baku. Namun, mereka sering memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi pemantauan, pembiayaan, serta pendampingan pengelolaan lahan.

Ketika kebakaran terjadi, mereka dapat menghadapi kerugian produksi tanpa memiliki sumber daya yang sama dengan perusahaan perkebunan besar untuk melakukan pemulihan.

Oleh karena itu, penguatan rantai pasok berkelanjutan perlu melibatkan petani kecil, bukan hanya perusahaan pemilik perkebunan dan fasilitas pengolahan.

Strategi Industri Perkebunan dalam Menghadapi Risiko Kebakaran

Menghadapi meningkatnya risiko kebakaran dan tuntutan keberlanjutan, perusahaan perkebunan perlu membangun strategi yang mencakup aspek operasional, lingkungan, dan perdagangan.

1. Memperkuat Sistem Pemantauan Kebakaran

Teknologi penginderaan jauh dan citra satelit dapat membantu perusahaan mendeteksi titik panas secara lebih cepat.

Pemantauan tersebut perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan lapangan agar perusahaan dapat mengetahui lokasi, tingkat risiko, dan sumber potensi kebakaran.

Respons yang cepat dapat membantu mengurangi kemungkinan api menyebar ke area perkebunan maupun kawasan sekitarnya.

2. Melakukan Pengelolaan Gambut dan Tata Air

Kawasan gambut membutuhkan pengelolaan air yang tepat agar tidak mengalami pengeringan berlebihan.

Perusahaan dapat melakukan pemantauan tinggi muka air, pemeliharaan sekat kanal, serta pengelolaan hidrologi untuk mengurangi risiko kebakaran bawah permukaan.

Pengelolaan gambut juga perlu memperhatikan fungsi ekologis kawasan dan ketentuan perlindungan lingkungan yang berlaku.

3. Memperkuat Kolaborasi dengan Petani dan Masyarakat

Pencegahan kebakaran tidak dapat hanya mengandalkan perusahaan pemegang konsesi.

Masyarakat sekitar dan petani kecil perlu dilibatkan melalui pelatihan, penyediaan peralatan pemadam, sistem pelaporan titik panas, serta pengembangan metode pembukaan lahan tanpa membakar.

Kolaborasi tersebut penting karena kebakaran dapat menyebar melewati batas administratif dan kepemilikan lahan.

4. Membangun Sistem Traceability yang Terintegrasi

Perusahaan perlu memastikan bahwa bahan baku yang diterima dapat ditelusuri hingga sumber produksinya.

Sistem ini dapat menghubungkan data perkebunan, petani, pabrik pengolahan, gudang, dan fasilitas distribusi.

Dengan demikian, perusahaan dapat mengidentifikasi pemasok berisiko, melakukan audit, serta memberikan informasi yang lebih transparan kepada pembeli.

5. Mengembangkan Strategi Pemulihan dan Diversifikasi Pasokan

Perusahaan perlu memiliki rencana kesinambungan bisnis apabila kebakaran mengganggu wilayah produksi tertentu.

Strategi tersebut dapat mencakup pengembangan jaringan pemasok alternatif, pengelolaan persediaan, diversifikasi lokasi pengadaan, serta investasi dalam pemulihan lahan dan tanaman.

Tujuannya bukan sekadar menjaga produksi dalam jangka pendek, tetapi juga membangun rantai pasok yang lebih tahan terhadap perubahan iklim dan gangguan lingkungan.

Prospek Industri Perkebunan dan Agribisnis Indonesia ke Depan

Meskipun menghadapi tantangan lingkungan, industri perkebunan Indonesia masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar.

Kontribusi ekspor subsektor perkebunan yang mencapai Rp503,3 triliun hingga Agustus 2026 menunjukkan pentingnya sektor ini bagi perdagangan nasional.

Kelapa sawit tetap menjadi komoditas utama, sementara karet, kelapa, kakao, dan kopi memberikan kontribusi tambahan terhadap diversifikasi ekspor.

Ke depan, peluang pengembangan industri tidak hanya berasal dari peningkatan luas produksi, tetapi juga dari penguatan industri pengolahan dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Beberapa peluang yang dapat dikembangkan meliputi:

  1. Hilirisasi kelapa sawit: Pengembangan biodiesel, oleokimia, specialty fats, dan produk pangan olahan.
  2. Industri pulp dan kertas berkelanjutan: Peningkatan efisiensi pengolahan serat dan pengembangan kemasan berbasis kertas.
  3. Pengolahan karet domestik: Pengembangan produk karet untuk kebutuhan otomotif, konstruksi, dan manufaktur.
  4. Penguatan industri kakao dan kopi: Peningkatan kapasitas pengolahan menjadi produk bernilai tambah.
  5. Teknologi agribisnis: Pemanfaatan pemantauan satelit, digitalisasi perkebunan, dan sistem traceability.

Namun, pertumbuhan tersebut perlu berjalan bersama dengan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

Perusahaan yang mampu menjaga produktivitas sekaligus menunjukkan transparansi pengelolaan lahan akan memiliki fondasi lebih kuat dalam menghadapi perubahan persyaratan perdagangan dan kebutuhan pembeli internasional.

Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab ekologis, tetapi juga bagian dari strategi mempertahankan daya saing, kepercayaan pasar, dan keberlanjutan bisnis agribisnis Indonesia.

Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

Read More

Other Insights