JAKARTA – Penguatan ekosistem agribisnis nasional dinilai membutuhkan kolaborasi yang lebih luas antara pelaku usaha, pemerintah, investor, dan pemangku kepentingan lainnya.
Di tengah tantangan biaya operasional dan keterbatasan akses pasar, pameran bisnis lintas sektor menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pelaku usaha dengan mitra potensial sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis baru.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus penyelenggaraan AGRINEX Expo 2026 yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Mengusung tema “Indonesia Feed the World”, pameran ini berupaya memperkuat kolaborasi di sektor pertanian dan pangan sekaligus memperluas peluang bisnis bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
UMKM Punya Peran Besar, tetapi Masih Menghadapi Beragam Tantangan

UMKM merupakan salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data yang dikutip dalam siaran pers AGRINEX Expo 2026, Indonesia memiliki lebih dari 65 juta unit usaha UMKM yang berkontribusi sekitar 61% terhadap produk domestik bruto (PDB) serta menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional.
Meski memiliki peran strategis, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.
Melemahnya daya beli masyarakat, kenaikan harga bahan baku, peningkatan biaya operasional, keterbatasan akses permodalan, serta rendahnya adopsi teknologi dan produktivitas menjadi sejumlah kendala yang perlu diatasi.
Dalam industri agribisnis, tantangan tersebut membuat penguatan jaringan bisnis dan akses terhadap pasar menjadi semakin relevan.
Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan ruang untuk mempromosikan produk, tetapi juga kesempatan untuk menjalin kemitraan, menjangkau calon pembeli, dan terhubung dengan sumber pembiayaan.
Di sinilah industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) berpotensi memainkan peran lebih luas. Selain menggerakkan sektor pariwisata dan jasa pendukung, penyelenggaraan pameran dan forum bisnis dapat menjadi ruang pertemuan antara pelaku industri, UMKM, investor, serta calon mitra usaha.
AGRINEX Expo 2026 Buka Ruang Kolaborasi dari Hulu hingga Hilir

Melalui AGRINEX Expo 2026, berbagai pemangku kepentingan di sektor pertanian dan pangan dipertemukan dalam satu platform kolaborasi. Peserta yang terlibat mencakup pemerintah, pelaku industri, UMKM, petani, lembaga keuangan, akademisi, hingga inovator teknologi.
Beragam kegiatan, mulai dari pameran produk, seminar, diskusi, lokakarya, hingga temu bisnis, menjadi bagian dari upaya memperkenalkan inovasi dan menjajaki peluang investasi di sektor agribisnis.
Pendekatan ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membangun hubungan bisnis yang lebih luas. UMKM, misalnya, dapat memanfaatkan pameran sebagai sarana memperkenalkan produk sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama dengan perusahaan berskala lebih besar.
Keterhubungan tersebut penting dalam pengembangan rantai pasok agribisnis, yang melibatkan berbagai tahapan mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Semakin luas akses kemitraan yang tersedia, semakin besar pula peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan jaringan dan meningkatkan daya saing produknya.
Dengan demikian, keberhasilan sebuah pameran agribisnis tidak hanya dapat dilihat dari aktivitas promosi dan transaksi selama acara berlangsung. Keberlanjutan hubungan bisnis setelah pameran berakhir juga menjadi aspek penting dalam menciptakan manfaat ekonomi jangka panjang.
AGRINEX Expo 2027 Berpeluang Perluas Akses Pasar dan Investasi

Ke depan, AGRINEX Expo 2027 diharapkan berkembang menjadi platform kolaborasi yang lebih inklusif, profesional, dan memberikan dampak nyata bagi pelaku agribisnis serta UMKM Indonesia.
Sejumlah peluang pengembangan yang disoroti meliputi penguatan program business matching, perluasan partisipasi peserta dari berbagai daerah, peningkatan keterlibatan investor dan lembaga pembiayaan, serta pemanfaatan teknologi digital.
Penguatan business matching menjadi salah satu aspek yang berpotensi meningkatkan nilai strategis pameran. Melalui pertemuan bisnis yang lebih terarah, pelaku usaha dapat dipertemukan dengan calon mitra berdasarkan kebutuhan dan peluang kerja sama yang relevan.
Sementara itu, partisipasi dari berbagai daerah dapat memperluas eksposur produk lokal dan membuka kesempatan bagi pelaku agribisnis untuk menjangkau pasar yang lebih besar. Keterlibatan investor serta lembaga pembiayaan juga berpotensi membantu pelaku usaha mengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan kapasitas bisnis.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital dapat mendukung perluasan jangkauan promosi dan memperkuat konektivitas antarpelaku industri, termasuk dalam menjajaki peluang pasar domestik maupun internasional.
Meski demikian, realisasi peluang tersebut akan bergantung pada kemampuan penyelenggara dan para pemangku kepentingan dalam menerjemahkan pertemuan serta penjajakan bisnis menjadi kemitraan yang konkret.
Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Agribisnis Nasional
Pengembangan agribisnis nasional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, media, hingga penyelenggara pameran. Sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan agar peluang yang tercipta melalui forum bisnis dapat berlanjut menjadi kerja sama yang memberikan manfaat bagi pelaku usaha.
Dalam konteks tersebut, AGRINEX Expo tidak hanya diposisikan sebagai ajang promosi produk pertanian dan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat industri MICE dan ekosistem agribisnis Indonesia.
Dengan membawa tema “Indonesia Feed the World”, penyelenggaraan AGRINEX Expo 2026 menempatkan potensi sektor pertanian dan pangan Indonesia dalam konteks peluang pasar yang lebih luas. Keberlanjutan penyelenggaraan pada 2027 diharapkan dapat memperkuat daya saing produk lokal, membuka akses pasar baru, serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Pada akhirnya, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertemukan lebih banyak pelaku industri, melainkan memastikan bahwa kolaborasi yang terbangun mampu menghasilkan peluang usaha yang berkelanjutan dan memperluas peran UMKM dalam rantai pasok agribisnis nasional.
