Skip to main content

Hi-Fella Insights

Lewat Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, Indonesia Bidik Peluang Ekspor Baru ke India, Bangladesh, Pakistan, dan Afrika

October 26, 2026
Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

TANGERANG — Pasar ekspor Indonesia semakin terbuka ke kawasan Asia Selatan dan Afrika. Di tengah persaingan perdagangan global, India, Bangladesh, Pakistan, dan sejumlah negara Afrika menawarkan peluang bagi produk Indonesia, mulai dari minyak sawit dan produk turunannya hingga bahan baku industri, produk manufaktur, serta barang konsumsi.

Momentum tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing”, pameran dagang internasional ini menargetkan potensi transaksi US$17,5 miliar dengan partisipasi buyer dari 134 negara dan 1.873 ekshibitor.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti peluang perdagangan dengan pasar nontradisional, terutama Asia Selatan dan Afrika. Negara seperti India, Bangladesh, dan Pakistan dinilai memiliki potensi yang dapat dikembangkan lebih jauh melalui perluasan kerja sama perdagangan.

Peluang tersebut didukung oleh kinerja perdagangan yang telah terbentuk. Pada 2025, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar US13,46miliardenganIndiadanUS3,3 miliar dengan Pakistan. Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia ke Bangladesh termasuk salah satu yang mencatatkan pertumbuhan tinggi pada tahun yang sama.

Di Afrika, besarnya kebutuhan impor kawasan membuka ruang untuk diversifikasi tujuan ekspor, meskipun neraca perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut masih mengalami defisit berdasarkan data 2024.

India Menjadi Pasar Besar dengan Peluang di Luar Batu Bara dan Minyak Sawit

India menjadi salah satu pasar strategis Indonesia di Asia Selatan. Besarnya kebutuhan energi, industri pengolahan, dan konsumsi domestik membuat negara tersebut menjadi tujuan penting bagi berbagai produk Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia dan India pada 2025 mencapai US$23,13 miliar. Ekspor Indonesia ke India tercatat sebesar US$18,30 miliar, sedangkan impor dari India mencapai US$4,84 miliar. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan sekitar US$13,46 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan perdagangan kedua negara telah memiliki basis yang kuat. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan posisi produk unggulan sekaligus memperluas ekspor ke sektor-sektor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Batu bara dan minyak sawit masih menjadi andalan ekspor

Batu bara dan minyak sawit termasuk komoditas utama yang dikirim Indonesia ke India. Selain keduanya, produk ekspor unggulan Indonesia pada 2025 juga mencakup baja nirkarat, asam lemak industri monokarboksilat, dan korundum buatan.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan Indonesia–India tidak hanya ditopang oleh komoditas energi dan perkebunan, tetapi juga produk industri dan bahan yang digunakan dalam berbagai proses manufaktur.

Minyak sawit, misalnya, memiliki pasar pada industri pangan, produk perawatan pribadi, dan oleokimia. Sementara itu, baja nirkarat dapat memasok kebutuhan berbagai sektor manufaktur dan konstruksi.

Kombinasi produk tersebut memberi Indonesia peluang untuk mempertahankan permintaan dari sektor yang sudah mapan sekaligus mengembangkan ekspor produk olahan.

Produk manufaktur dan otomotif berpotensi memperluas perdagangan

India juga menarik untuk dijajaki melalui produk manufaktur, furnitur, serta komponen otomotif. Sektor-sektor tersebut bahkan menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan delegasi bisnis India dan Menteri Perdagangan Budi Santoso pada hari kedua TEI ke-41.

Peluang di sektor manufaktur perlu dilihat berdasarkan kebutuhan spesifik pembeli, kapasitas produksi eksportir Indonesia, harga yang kompetitif, serta standar teknis yang berlaku di India. Untuk produk otomotif, misalnya, potensi ekspor tidak hanya bergantung pada permintaan kendaraan, tetapi juga kecocokan spesifikasi dan rantai pasok industri.

Pertemuan bisnis dalam TEI dapat menjadi pintu masuk untuk mengidentifikasi kebutuhan tersebut, mempertemukan produsen dengan distributor, serta mengembangkan kerja sama komersial yang lebih berkelanjutan.

Tantangan: Memperluas nilai tambah di tengah perdagangan yang sudah besar

Walaupun mencatatkan surplus besar, Indonesia tetap perlu mengurangi ketergantungan berlebihan pada kelompok komoditas tertentu. Pengembangan produk olahan berbasis sumber daya alam, komponen industri, dan produk manufaktur menjadi salah satu cara memperluas sumber pertumbuhan ekspor.

Dengan pasar yang telah terbentuk, India menawarkan dua jalur pengembangan: menjaga daya saing komoditas utama dan memperluas penetrasi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Bangladesh Membuka Peluang Dengan Permintaan Minyak Nabati, Energi, dan Bahan Baku Industri

Berbeda dari India yang memiliki basis perdagangan luas, Bangladesh menarik untuk dilihat dari kebutuhan pasokan bagi industri dan konsumsi domestiknya. Negara Asia Selatan ini menjadi pasar potensial untuk minyak nabati, produk energi, serta berbagai bahan baku industri.

Kinerja ekspor Indonesia ke Bangladesh juga menunjukkan momentum positif. Kementerian Perdagangan mencatat Bangladesh sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia yang tinggi pada 2025.

Data perdagangan berbasis UN Comtrade yang dirangkum Trading Economics mencatat nilai ekspor Indonesia ke Bangladesh mencapai sekitar US3,94miliarpada2025,meningkatdariUS3,04 miliar pada 2024. Nilai tersebut mengindikasikan kenaikan sekitar 29,5 persen secara tahunan.

Minyak sawit dan produk turunannya menjadi komoditas utama

Minyak sawit dan produk turunannya merupakan salah satu kelompok ekspor terbesar Indonesia ke Bangladesh. Data perdagangan 2025 menunjukkan nilai ekspor kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati mencapai sekitar US$1,59 miliar.

Produk tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri pangan, minyak goreng, dan berbagai proses pengolahan. Bagi Indonesia, pasar Bangladesh memberi peluang untuk mempertahankan ekspor minyak sawit sekaligus menjajaki produk turunannya yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Meski demikian, peluang komersial perlu disesuaikan dengan spesifikasi produk yang diminta pembeli, persyaratan impor, harga, serta dinamika pasokan dan permintaan di pasar setempat.

Bahan bakar mineral dan energi menjadi penopang perdagangan

Selain minyak nabati, bahan bakar mineral dan produk energi mencatatkan nilai ekspor yang signifikan ke Bangladesh. Nilai ekspor kelompok produk tersebut mencapai sekitar US$1,29 miliar pada 2025 menurut data perdagangan yang sama.

Besarnya nilai tersebut menunjukkan pentingnya pasokan energi dalam hubungan dagang kedua negara. Namun, eksportir perlu memperhatikan perubahan harga komoditas, biaya logistik, kebijakan impor, serta kebutuhan pembeli agar dapat mempertahankan daya saing.

Bagi Indonesia, peluangnya bukan sekadar meningkatkan volume penjualan, tetapi juga memastikan bahwa hubungan dagang memiliki kesinambungan kontrak dan pengelolaan risiko yang baik.

Serat buatan, pulp, dan produk kimia memperluas peluang industri

Di luar dua kelompok komoditas utama, Indonesia juga mengekspor pulp dan bahan berserat selulosa, serat stapel buatan, buah-buahan, bahan kimia, serta berbagai produk industri lainnya ke Bangladesh.

Pada 2025, ekspor pulp dan kelompok bahan terkait tercatat sekitar US164,63juta,sedangkanseratstapelbuatanmencapaisekitarUS139,46 juta.

Kelompok produk tersebut menarik karena berhubungan dengan kebutuhan industri pengolahan, termasuk rantai pasok tekstil dan manufaktur. Peluangnya terletak pada kemampuan eksportir Indonesia menyediakan bahan baku dengan kualitas konsisten, spesifikasi sesuai kebutuhan, dan pengiriman yang dapat diandalkan.

Dengan basis ekspor yang sudah tumbuh, Bangladesh berpotensi menjadi pasar pengembangan bagi produk Indonesia yang lebih beragam, tidak hanya minyak sawit dan energi.

Pakistan Memperkuat Pasar Sawit melalui Kerja Sama Perdagangan yang Lebih Luas

Pakistan merupakan pasar penting lainnya di Asia Selatan, terutama bagi industri minyak nabati Indonesia. Selain memiliki hubungan perdagangan yang telah berkembang, kedua negara juga tengah mendorong perluasan kerja sama ekonomi melalui penguatan perjanjian perdagangan.

Pada 2025, total perdagangan Indonesia–Pakistan mencapai US3,6miliar.EksporIndonesiatercatatUS3,4 miliar, sedangkan impor dari Pakistan mencapai US136juta.IndonesiapunmembukukansurplussekitarUS3,3 miliar, berdasarkan data Kementerian Perdagangan.

Angka tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai pemasok penting bagi pasar Pakistan. Pada saat yang sama, penguatan akses pasar dan diversifikasi produk dapat membantu hubungan dagang kedua negara berkembang lebih jauh.

Minyak sawit menjadi tulang punggung perdagangan bilateral

Pakistan merupakan salah satu pasar utama minyak sawit Indonesia. Kementerian Perdagangan mencatat nilai impor minyak sawit Pakistan dari Indonesia mencapai US$2,77 miliar pada 2024.

Minyak sawit memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan industri pangan dan minyak nabati di Pakistan. Produk ini dapat digunakan untuk pengolahan makanan, minyak konsumsi, serta berbagai kebutuhan industri turunannya.

Besarnya pasar tersebut memberikan peluang bagi eksportir Indonesia untuk mempertahankan hubungan jangka panjang dengan importir dan pelaku industri Pakistan.

Namun, pasar yang terkonsentrasi pada satu kelompok produk juga membawa risiko. Perubahan kebijakan impor, fluktuasi harga komoditas, persaingan pemasok, dan perkembangan kebutuhan domestik Pakistan dapat memengaruhi kinerja ekspor.

Karena itu, penguatan perdagangan minyak sawit perlu disertai upaya menjaga kualitas, keberlanjutan pasokan, dan daya saing harga.

Serat buatan, komponen kendaraan, dan produk industri berpotensi dikembangkan

Selain minyak sawit dan turunannya, ekspor Indonesia ke Pakistan mencakup serat stapel artifisial, serat stapel sintetis, bagian kendaraan bermotor, dan briket batu bara.

Kelompok produk tersebut membuka peluang untuk mengembangkan perdagangan berbasis kebutuhan industri. Serat buatan, misalnya, dapat menyasar kebutuhan industri tekstil, sementara komponen kendaraan bermotor berpotensi memasok bagian dari rantai produksi dan distribusi otomotif.

Pengembangan ekspor di sektor ini membutuhkan pemetaan pembeli dan spesifikasi produk secara lebih terarah. Eksportir juga perlu memperhitungkan persyaratan teknis, tarif, serta biaya logistik agar produk dapat bersaing dengan pemasok dari negara lain.

Perluasan PTA menjadi CEPA dapat memperkuat akses pasar

Pada Januari 2026, pemerintah Indonesia dan Pakistan membahas pengembangan Preferential Trade Agreement (PTA) menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), dengan sasaran perluasan kerja sama pada 2027.

Pembahasan ini membuka peluang untuk memperdalam hubungan ekonomi, termasuk mengidentifikasi sektor-sektor potensial dan memperbaiki akses perdagangan.

Selain perdagangan barang, kedua negara turut membahas peluang kerja sama jasa, termasuk sektor kesehatan, serta kerja sama regional melalui D-8 Preferential Trade Agreement.

Jika proses perluasan perjanjian berjalan sesuai rencana, penguatan akses pasar dapat menjadi salah satu faktor pendukung bagi eksportir Indonesia. Namun, dampaknya akan bergantung pada hasil perundingan, cakupan komitmen, dan implementasi ketentuan yang disepakati.

Afrika: Pasar Besar dengan Peluang yang Berbeda di Setiap Negara

Afrika menawarkan peluang diversifikasi ekspor yang menarik, tetapi pendekatannya tidak bisa disamakan untuk seluruh kawasan. Negara-negara di benua ini memiliki struktur industri, kebutuhan impor, kemampuan distribusi, dan kondisi ekonomi yang berbeda.

Menurut Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia dengan kawasan Afrika pada 2024 mencapai sekitar US2,4miliar.NilaieksporIndonesiatercatatUS792 juta, sedangkan impor mencapai US$1,6 miliar.

Artinya, Indonesia masih mengalami defisit perdagangan dengan kawasan tersebut. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa peluang peningkatan ekspor masih terbuka, terutama jika pelaku usaha dapat mengidentifikasi negara tujuan dan kelompok produk yang paling sesuai.

Afrika Selatan dan Mesir menjadi titik masuk untuk pemetaan pasar

Data perdagangan kawasan yang dirujuk dalam kajian Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa Afrika Selatan dan Mesir termasuk importir terbesar di Afrika pada 2024.

Nilai impor Afrika Selatan tercatat sekitar US101,2miliar,sementaraMesirmencapaisekitarUS94,7 miliar. Maroko, Nigeria, dan Aljazair juga termasuk pasar impor besar di kawasan tersebut.

Besarnya impor tidak otomatis berarti seluruh kebutuhan pasar dapat dipenuhi Indonesia. Namun, data itu memberi titik awal untuk mengidentifikasi negara yang layak diprioritaskan, lalu membandingkan kebutuhan produknya dengan kemampuan eksportir Indonesia.

Afrika Selatan, misalnya, dapat menjadi salah satu pasar yang diteliti untuk produk industri dan barang konsumsi. Sementara Mesir berpotensi menjadi tujuan penjajakan bagi produk yang sesuai dengan kebutuhan distribusi dan pengolahan setempat.

Penentuan prioritas tetap memerlukan data impor per produk, tarif, standar teknis, persaingan pemasok, dan biaya pengiriman.

Energi, mesin, peralatan listrik, dan kendaraan menjadi kelompok permintaan utama kawasan

Data impor Afrika pada 2024 menunjukkan bahwa bahan bakar mineral merupakan kelompok impor terbesar dengan nilai sekitar US111,2miliar.PermintaanjugatercatattinggiuntukmesindanperalatanmekanissenilaiUS73,9 miliar, peralatan listrik sekitar US53,3miliar,sertakendaraansekitarUS48,1 miliar.

Komposisi tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan kawasan terhadap produk energi, peralatan industri, dan sarana transportasi.

Bagi Indonesia, peluang perlu dievaluasi berdasarkan kecocokan produk yang tersedia. Komoditas energi dan produk berbasis sumber daya alam dapat menjadi salah satu jalur masuk, sementara komponen, produk listrik tertentu, dan barang manufaktur berpotensi dikembangkan apabila harga serta spesifikasinya kompetitif.

Tidak semua kategori tersebut otomatis menjadi peluang ekspor yang siap direalisasikan. Eksportir perlu menilai kebutuhan negara tujuan secara spesifik dan mengidentifikasi distributor maupun mitra lokal yang dapat menjangkau pembeli akhir.

Afrika Barat dan Afrika Timur menunjukkan momentum pertumbuhan ekspor

Perluasan pasar Afrika juga perlu mempertimbangkan dinamika pertumbuhan, bukan hanya ukuran pasar. Kementerian Perdagangan mencatat bahwa ekspor nonmigas Indonesia ke Afrika Barat tumbuh 56,66 persen pada 2025, sedangkan Afrika Timur mencatat pertumbuhan 32,61 persen.

Angka tersebut menunjukkan momentum yang layak ditelusuri lebih jauh. Namun, pertumbuhan kawasan tidak berarti semua negara dan komoditas di dalamnya mengalami kenaikan dengan besaran yang sama.

Langkah berikutnya adalah memetakan negara penyumbang pertumbuhan, produk yang paling banyak dibeli, dan peluang yang dapat dikembangkan oleh eksportir Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, pelaku usaha dapat menghindari strategi yang terlalu luas dan memusatkan sumber daya pada pasar yang memiliki permintaan serta prospek transaksi lebih terukur.

Tantangan distribusi, pembiayaan, dan regulasi perlu diperhitungkan

Berbeda dengan perdagangan ke pasar yang lebih dekat, ekspor ke sejumlah negara Afrika dapat menghadapi tantangan berupa jarak pengiriman, biaya logistik, kebutuhan pembiayaan, dan kompleksitas distribusi.

Eksportir perlu mempertimbangkan penggunaan distributor lokal, mitra dagang yang memahami regulasi setempat, serta mekanisme pembayaran yang sesuai dengan profil risiko transaksi.

Pemenuhan standar produk, dokumen impor, dan ketentuan teknis juga harus dipastikan sejak tahap penjajakan bisnis. Bagi pelaku UMKM, dukungan informasi pasar dan fasilitasi pertemuan dengan calon pembeli menjadi penting untuk mengurangi hambatan masuk.

Dengan pemetaan yang tepat, pasar Afrika dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekspor Indonesia, bukan sekadar tujuan baru yang didekati tanpa perencanaan.

TEI ke-41 Menjadi Jembatan dari Peluang Pasar ke Realisasi Transaksi

Perluasan ekspor ke India, Bangladesh, Pakistan, dan Afrika menunjukkan bahwa strategi perdagangan Indonesia dapat dibangun melalui beberapa jalur sekaligus: mempertahankan pasar komoditas yang telah mapan, mengembangkan produk industri bernilai tambah, dan menjangkau negara tujuan baru.

TEI ke-41 menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan eksportir nasional dengan buyer internasional, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pasar yang dapat diterjemahkan menjadi peluang bisnis.

Kementerian Perdagangan juga mendorong UMKM memasuki pasar ekspor melalui fasilitasi business matching, program Desa Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor, dan dukungan 46 kantor perwakilan perdagangan RI di 33 negara. Upaya tersebut dapat membantu pelaku usaha menemukan mitra, memahami kebutuhan pasar, dan memperluas jangkauan pemasaran.

Namun, keberhasilan diversifikasi ekspor tidak cukup diukur dari banyaknya negara yang dijangkau atau nilai transaksi yang diumumkan selama pameran. Keberlanjutan kontrak, konsistensi kualitas, kemampuan memenuhi standar, efisiensi distribusi, serta ketepatan memilih pasar akan menentukan apakah peluang tersebut dapat berkembang menjadi pertumbuhan ekspor jangka panjang.

Dengan fondasi perdagangan yang sudah terbentuk di Asia Selatan dan peluang pasar yang masih terbuka di Afrika, tantangan Indonesia berikutnya adalah mengubah penjajakan bisnis menjadi transaksi berulang serta memperluas kontribusi produk bernilai tambah dalam perdagangan internasional.

Hi-Fella
Top Author Icon Top Author

Hi-Fella

Content Writer

This is the official account of Hi-Fella, the digital solution platform.

Read More

Other Insights